Oleh Denny JA
(Seorang mantan budak, kulit hitam asal Ethiopia bernama Bilal, diangkat oleh Nabi Muhammad sebagai Muazin pertama dalam sejarah) (1)
-000-
Ya, Nabi,
sekali lagi kukunjungi makammu.
Tak kulihat tubuhmu.
Tapi aroma akhlakmu
masih berembus dari batu dan dinding,
dari debu yang tak berani bersuara.
Dalam ziarahku kali ini,
suara ayat Al-Qur’an dari mereka yang mengaji di mesjid ini,
membawaku
terbang ke masa silam,
seperti burung yang kembali
ke sarangnya yang telah terbakar.
Di tahun 613 Masehi,
kulihat Bilal di sana.
Ia seorang budak,
kulitnya hitam, tubuhnya luka,
tapi imannya gemilang.
Ia diseret ke gurun,
ditindih batu panas,
karena menyebut namamu,
dan satu kata yang mengguncang langit:
“Ahad… Ahad…”
Tuhan yang Maha Esa.
Di tahun 615 Masehi,
Sahabatmu Abu Bakar datang,
membeli Bilal dengan harga darah dan air mata,
lalu membebaskannya.
Bilal bukan budak lagi.
Ia saudara.
Ia manusia.
Di tahun 622 Masehi,
Sholat butuh panggilan, kata mereka.
Lonceng mirip gereja,
klakson mirip Yahudi.
Tapi engkau menunggu
suara dari langit
yang tak meniru siapa-siapa.
Tapi yang datang justru mimpi
dari langit yang membisikkan:
“Allahu Akbar…”
Itu sebuah adzan, panggilan suci,
untuk jeda sejenak,
dan sholat,
memberi ruang bagi jiwa,
untuk dimekarkan dengan sentuhan Sang Gaib.
Kau pun menunjuk Bilal,
mantan budak yang dulu diinjak,
sebagai muazin pertama dalam sejarah, untuk suarakan itu adzan.
Tahun 632,
kau telah tiada.
Bilal berdiri, hendak mengumandangkan adzan.
Tapi ketika sampai pada:
“Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah…”
suaranya pecah.
Air matanya menggantikan kalimat.
Namamu membuatnya roboh.
Ia pun memilih bisu,
agar kenangan tak pecah
di udara.
Bilal undur dari menara.
Bukan kalah oleh waktu,
tapi karena tiap gema adzan
telah berubah menjadi
ratapan kenangan
Kini di tahun 2025,
aku duduk tafakur di sini.
Kudengar lagi suara azan,
dan hatiku berkumandang.
Aku membaca kisah hidupmu
seperti membaca cahaya
yang masih hangat dari 1400 tahun lalu.
Kau katakan tugasmu
hanya ingin membangun akhlak manusia.
Dan risalahmu bukan untuk satu kaum,
tapi untuk seluruh alam.
Ya Nabi,
dalam doaku subuh ini,
aku melihat banyak budak baru lahir:
budak harta, budak kekuasaan,
budak digital, budak ego.
Mereka disiksa bukan oleh tuan,
tapi oleh diri mereka sendiri.
Aku melihat negeri-negeri
yang mengagungkan namamu,
namun tak meneladani cahayamu.
Kau disebut, tapi tak dicintai.
Kau dipuja, tapi tak ditiru.
Pemimpinnya korup.
Rakyatnya kehilangan arah.
Agama menjadi ornamen,
bukan suluh.
-000-
Ya Nabi,
jika suatu hari umatmu tersesat
di lorong-lorong gelap modernitas,
dan lupa jalan pulang,
izinkan adzan Bilal kembali bergema—
bukan dari menara,
tapi dari lubuk hati yang merindu.
Akankah,
kaum algoritma pun bersujud:
data-data bertasbih,
kode-kode bertahlil,
dan langit digital yang dulu hitam
kini memancarkan shalawat
dari pixel-pixel yang merdeka.
Di hadapan makammu,
aku tak lagi bicara.
Aku hanyalah air mata
yang ingin belajar
menjadi cahaya.***
Di Mesjid Madinah, di dekat makam Nabi Muhammad, 2 April 2025
CATATAN
(1) Bilal mantan budak diangkat menjadi muazin pertama dunia Islam
Bilal ibn Rabah: The First Muezzin of Islam - The Muslim Vibe
-000-
Ratusan puisi dan esai Denny JA soal filsafat hidup, sastra, agama dan spiritualitas, politik, sejarah dan catatan perjalanan bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World
https://www.facebook.com/share/15LSyraWrD/?mibextid=wwXIfr