Oleh : Dr. Wendy Melfa
Fenomena Lebaran Idul Fitri
Setelah berpuasa satu bulan lamanya, seluruh umat (beragama) Islam termasuk di Indonesia, merayakan Idul Fitri,.ditandai pergantian bulan Ramadhan ke 1 Syawal tahun Hijriah.
Gema takbirpun berkumandang … Allahu Akbar … Allahu Akbar … Allahu Akbar … Walillah Hilham … membahana dilangit Nusantara, membangun suasana haru sekaligus gembira, dari ketupat hingga tetes air mata, dari shalat Ied di Masjid dan lapangan terbuka hingga saling silaturahmi dan bermaaf-maafan.
Fenomena ini juga disebut Lebaran oleh masyarakat Indonesia.
Shalat Idul Fitri kali ini berkesempatan ditunaikan di Lapangan Gasibu, halaman kantor Gubernuran Jawa Barat di Kota Bandung, satu jemaah dengan Gubernur (model Kepala Daerah fenomenal saat ini) Jawa Barat, Dedy Mulyadi, yang juga memberikan sambutan, Forkompinda Jabar, MUI, Baznas Jabar, beserta seluruh jemaah shalat Ied yang hadir di lapangan tersebut.
Moment shalat Idul Fitri kali ini merupakan bertemunya fenomena lebaran yang diisi dengan sambutan Kepala Daerah (Kada) yang sedang fenomenal karena sepak terjangnya sebagai Kada dalam beberapa kebijakannya maupun saat menyelesaikan masalah di lapangan yang cenderung short cut (a birokratik), langsung masuk kedalam inti masalah, dan menyelesaikannya secara solutif dalam tempo singkat, dan ini fenomenal sejak dirinya dilantik sebagai Kada.
Kesadaran Kolektif : Keislaman dan Minta Maaf
Sang fenomenal dalam sambutannya mengajak semua hadirin untuk menjadikan momentum idul fitri sebagai tonggak untuk membangun kesadaran kolektif akan keislaman dan meminta maaf bukan hanya mengucapkan “tradisi” mohon maaf lahir dan batin ketika lebaran tiba setelah kita semua menjalankan kewajiban puasa (menahan) Ramadhan setiap tahun.
Dengan ‘ksatria’ DM mewakili dirinya sendiri sebagai (salah satu) pemimpin yang mengelola anggaran negara (rakyat), dengan menyatakan; marilah momentum 1 Syawal 1446 H Idul Fitri ini untuk membangun kesadaran kolektif untuk menahan diri dan berjihad (berjuang atau berusaha dengan sungguh-sungguh) dalam mengelola dan menggunakan keuangan negara untuk sebesar-besarnya kepentingan rakyat, menahan diri tidak menggunakannya untuk kepentingan pribadi, keluarga, dan golongannya.
Dalam narasinya, DM menyatakan, bahwa keislaman pemimpin bukanlah (hanya) dinilai dari gamis yang digunakan, bukan dinilai dari peci yang dipakai, bukan sejadah yang dihamparkan, tetapi keislaman pemimpin dinilai dan dapat dirasakan dari langkah dan kebijakannya yang menampilkan “senyum” rakyat atas kebijakan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh rakyat dari semua aspek kehidupannya, manakala yang terjadi sebaliknya justru menjadi kehinaan bagi seorang pemimpin ketika rakyat dalam kesusahan dan menyebabkan negara abai dalam mengurusi kepentingan dan kebutuhan rakyatnya.
Seakan ingin ‘mengajak’ para pemimpin yang telah salah dan kurang tepat dalam membuat kebijakan dan mengelola keuangan negara untuk membangun kesadaran kolektif guna meninggalkan keegoan ritual seorang pemimpin dengan bersujud memohon ampun kepada Allah Tuhan Yang Maha Kuasa dan meminta maaf kepada rakyat manakala langkah dan kebijakan pemimpin belum dirasakan manfaatnya bagi usaha meningkatkan kesejahteraan rakyat, bahwa kita telah salah menjadi penyelenggara negara, dan akan merubah seluruh kebijakan kita, dan meminta maaf apabila layanan untuk membangun kesejahteraan rakyat sebagai bentuk kesadaran spiritual, moral, dan emosional kita.
Mendengarkan sambutan itu, penulis tertegun seraya berdoa, semoga substansi sambutan fenomena lebaran yang disampaikan oleh sosok yang sedang fenomenal ini bukan hanya berupa narasi dan pilihan diksi-diksi manis layaknya kue-kue lebaran yang tersaji pada meja -meja rumah yang menunggu kedatangan tetangga dan handaitaulan sebagai tradisi selepas shalat Idul Fitri dilaksanakan, semoga ini benar-benar sebuah narasi yang dapat menggugah dan menginspirasi para pemimpin negeri ini akan terbangunnya kesadaran kolektif tentang arti pentingnya keberadaan pemimpin dalam mengambil langkah dan kebijakan yang harus dirasakan manfaatnya oleh rakyat, bukan hanya dapat dirasakan oleh diri pribadi, keluarga, dan golongannya sendiri apalagi hanya untuk kepentingan ‘pencitraan’ atau kontens media sosialnya.
Semoga kesadaran kolektif ini juga ‘menular’ kesejahteraan negeri ini, termasuk negeri tempat kita tinggal dan berpenghidupan, semoga kesadaran ini tumbuh sebagai ‘model’ bagi para pemimpin negeri ini, Aamiin.
Disaat bersamaan merasakan dan membandingkan penyelenggaraan shalat Idul Fitri kali ini dengan tempat dimana selama ini diselenggarakan layaknya shalat Idul Fitri ditahun sebelumnya, betapa clear dan jelas terderngar suara sambutan, bacaan surat dalam shalatnya, khutbah dari khotib meskipun jumlah jemaah dan lapangan tempat shalat yang lebih besar dari kapasitas tempat yang sebelumnya yang jemaahnya ‘bubar’ meninggalkan lapangan padahal khotib masih menyampaikan ceramahnya karena suaranya tidak jelas terdengar disebabkan tidak didukung oleh perangkat soundsystem yang memadai.
Padahal pada moment berbeda meskipun ditempatkan yang sama, pertunjukan musik bisa terdengar dengan jelas bahkan sampai radius luar lapangan, bukankah ini salah satu contoh pengalaman penyelenggraan shalat Idul Fitri ditempat kita yang lalu-lalu juga diselenggarakan secara abai, sekedar menggugurkan kewajiban, dan semoga bisa teratasi melalui kesadaran kolektif untuk lebih baik penyelenggaraan berikutnya.
Selamat Idul Fitri 1446 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
*Penulis: Dewan Pakar ICMI Orwil Lampung & Penggiat Ruang Demokrasi (RuDem).