Cari Berita

Breaking News

Memaknai Ramadhan Penyuci Hati, Pembersih Jiwa

Dibaca : 0
 
Editor: Rizal
Sabtu, 08 Maret 2025

Junaidi Jamsari (dok/inilampung)


Oleh: Junaidi Jamsari

 

Belum cukup hitungan 10 hari pertama kita menjalani ibadah puasa, kita mendengar dan dikejutkan dengan datangnya musibah berupa kebanjiran, pun kebakaran yang menimpa saudara-saudara kita di beberapa tempat kota-kota besar, termasuk di Provinsi Lampung yang kita cintai. Sesama Muslim dan anak bangsa, kita turut bersedih, semoga saudara-saudara kita diberi ketabahan dan kesabaran.


Mengoptimalkan ibadah puasa Ramadhan agar memperoleh hasil yang baik sekurangnya ada nilai tarbiyah dari ibadah Ramadhan yang mubarak ini yang harus dilakukan.


Membersihkan jiwa. Keadaan jiwa seseorang menjadi penentu dalam bersikap dan berprilaku. Sikap prilaku yang baik atau buruk ditentukan oleh apakah jiwanya bersih atau tidak. Puasa melatih untuk menjadi manusia yang memiliki jiwa bersih.


Jiwa yang bersih, senang akan kejujuran, takut kepada Allah, selalu mendambakan kebersihan jiwa, membersihkan dosa-dosa dan jiwa yang bersih membentuk disiplin. Puasa harusnya dapat menghasilkan jiwa disiplin dan ketaatan kepada Allah SWT.


Kebersihan jiwa dan kesucian hati adalah upaya kita untuk melakukan penghayatan dan pengamalan agama secara intens, sebab selama puasa, 24 jam kita berada dalam suasana religius, dan sangat menikmati suasana khusuk sehingga rohani kita bisa mengekspresikan kehadirannya secara bebas dan dalam ruang yang lebih luas. 


Bulan puasa adalah bulan rohani, kita mempersempit ruang bagi jasmani dan mempersempit gerak di malam hari karena kita gunakan untuk tafakur, mendekatkan diri kepada Allah dengan shalat tarawih dan tadarus Al-quran. Ini diuraikan dengan jelas dalam akhir ayat Al-Baqarah 183, yang artinya sebagai berikut: agar kamu menjaga din dari kejahatan. Puasa ialah melatih manusia bagaimana caranya menjauhkan diri dari kejahatan. Karena ada dua penggerak dalam diri manusia: kejahatan dan ketakwaan. 


Allah berfirman dalam QS. Asy-Syams: 8 yang artinya: maka dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya.


Mendalami kandungan QS. Al-Baqarah 183,filosofisnya puasa yang kita lakukan telah mampu melaksanakan ajaran agama yang diwahyukan (kitab suci) dan yang terpampang di alam secara makrokosmos dan apa yang ada di dalam diri insan sejati secara makrokosmos.


Hati sejatinya adalah lubuk qalbu sanubari insani yang menurut sabda Rasulullah SAW adalah segumpal daging di dalam rongga manusia yang manakala suci/bersih dan baik, maka akan baiklah seluruh akhlaq/perbuatan/moral manusia tersebut, bilamana rusak maka rusak pula segala sendi kehidupan manusia tersebut.


Puasa upaya pembenahan diri dalam jati diri yang paling dalam dan tersembunyi ditubuh jasmaniah Islamiah, karena kendali iman/keyakinan berasal dari fu'ad/qalbu/sudur/nurani manusia itu sendiri. 


Firman Allah SWT: (Awwalul Baiti Qalbul Mu'minun) artinya: Awal rumah-Ku adalah qalbu/hati hamba-Ku yang ber-iman. 

Sabda Rasulullah SAW sebagai berikut : Al imanu aqdun watashdiiqu bil qalbi wa iqraarun bil lisna wa’amalun bil arkan. Artinya : Iman itu tertambat/berurat akar dan selalu dibenarkan oleh hati/qalbu, dizhahirkan/diucapkan dengan lidah/lisan, dan diwujudkan dengan amal perbuatan yang nyata. Jadi, antara bisikan dan gerak hati harus satu garis lurus (tidak boleh bengkok), itu pula yang terucap, itu pula yang yang kita perbuat.


Marilah kita teguh dengan ke-Islaman kita. Untuk itu kita perlu mengambil hikmah yang sederhana dari kehidupan ikan di lautan, mereka hidup dan berada dalam air yang rasanya asin tetapi tidak menyebabkan diri ikan terasa asin, karena ikan itu hidup tidak terbawa oleh kondisi sekeliling. (*)



Junaidi Jamsari

Wakil Ketua Tanfidziyah PW NU Lampung

LIPSUS