{{ message }}

Lahan Kebun Tergerus, Produksi Kopi Terus Merosot

Jum'at, 4 Oktober 2019 - 10:20:57 AM | 294 | Opini

Lahan Kebun Tergerus, Produksi Kopi Terus Merosot
Petani kopi. Foto. Ist.

INILAMPUNG.com - Kopi merupakan salah satu minuman yang populer di Indonesia bahkan di dunia. Bekerja hingga larut atau sekadar kongkow, tak lengkap tanpa ditemani aroma dan rasa khas kopi.

“Ingat kopi, Ingat Lampung” slogan yang sudah tidak asing bagi masyarakat. Provinsi Lampung adalah salah satu penghasil kopi terbesar di Indonesia. Produksi kopi Lampung terkonsentrasi di lima kabupaten yaitu Lampung Barat, Tanggamus, Lampung Utara, Waykanan dan Pringsewu.

Produksi kopi Lampung berjenis Arabica dan Robusta. Berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) tentang Statistik Harga Produsen Pertanian Provinsi Lampung, pada tahun 2018, rata-rata harga kopi Arabica tertinggi berada di Kabupaten Pringsewu yaitu Rp2.554.167 per-100 kg. Sedang kopi Robusta Rp2.600.000 per-100kg.

Kopi menjadi salah satu penunjang perekonomian penduduk Pringsewu. Namun yang disayangkan, lahan perkebunan kopi dari tahun 2015 sampai 2018 terus tergerus karena konversi lahan. Pada 2015, luas tanam kopi mencapai 2.543 hektare, pada 2018 hanya 1.379 hektare.

Banyak lahan pertanian dan perkebunan yang beralih menjadi bangunan dan pemukiman. Hal ini seharusnya menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Pringsewu untuk mengambil tindakan tegas agar lahan tidak beralih fungsi. Jika dibiarkan, menjadi ancaman serius terhadap produksi pertanian, termasuk komoditas kopi.

Produksi Kopi Pringsewu

Bekurangnya luas tanam kopi, dengan sendirinya produksi kopi juga merosot dari tahun ke tahun. Sejak 2016 hingga 2018, produksi kopi tidak pernah menyentuh angka 1000 ton.
Berdasarkan publikasi BPS Provinsi Lampung dalam Angka Tahun 2016-2019, selama empat tahun terakhir produksi kopi terus menurun. Pada 2015, produksi kopi sebesar 1044 ton kemudian 2016 turun menjadi 938 ton dan pada 2017 berkurang menjadi 837 ton, dan pada 2018 tinggal 705 ton. Produktivitas kopi di Pringsewu 511,24 kg/ha, lebih rendah dari produktivitas kopi Lampung yang mencapai 704,815kg/ha.

Sumber: Publikasi BPS Provinsi Lampung Dalam Angka Tahun 2016-2019

 Selain konversi lahan, produksi komoditas kopi menurun juga akibat musim kemarau yang telah terjadi sejak beberapa bulan terakhir. Pada September 2019, sekitar 5 hektar lahan di tepi Sungai Way Sekampung terbakar. Empat hari kemudian, tujuh hektare perkebunan kopi dan kakao di Pekon Lugusari Kecamatan Pagelaran juga terbakar.

Upaya Pertahanan Lahan

Tahun lalu Pemkab Pringsewu mengadakan studi banding ke Kabupaten Temanggung yang berhasil mempertahankan lahan pertanian dengan program Perlindungan Lahan Pertanian Berkelanjutan, sekaligus meningkatkan hasil produksi pertanian.

Ada sejumlah peraturan yang seharusnya bisa digunakan untuk mempertahankan lahan pertanian tidak beralih-fungsi. Misalnya, UU No.41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, kemudian Peraturan Pemerintah No.1 Tahun 2011 tentang Penetapan dan Alih Fungsi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.

Selain itu, ada Perda Provinsi Lampung No.17 tahun 2013 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, Perda Kabupaten Pringsewu No.6 tahun 2015 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Bahkan, suda ada Surat Bupati Pringsewu No.520/06.B/D.07/2016 tanggal 11 Januari 2016 tentang Alih Fungsi Lahan Pertanian.

Atas dasar itu, seharusnya Pemkab Pringsewu dapat menjaga perkebunan kopi agar luas lahannya tidak terus berkurang. Pemkab harus mengambil kebijakan tegas tentang alih fungsi lahan.

Mengingat kopi Lampung merupakan komoditas andalan dan Kabupaten Pringsewu menjadi salah satu sentra produksi kopi, seharusnya menjadi motivasi masyarakat dan pemerintah mempertahankan komoditas ini. Sehingga kopi kembali berjaya dan masyarakatnya pun sejahtera. (*)

OLeh Esa Anindika Sari
Mahasiswi Politeknik Statistika STIS

 




BERITA LAINNYA

Terpopuler