{{ message }}

17 Mahasiswa Unila Ditahan, Diduga Terlibat Kasus Tewasnya Aga Trias Tahta

Kamis, 10 Oktober 2019 - 07:31:32 AM | 244 | Hukum

17 Mahasiswa Unila Ditahan, Diduga Terlibat Kasus Tewasnya Aga Trias Tahta
Aga Trias Tahta, mahasiswa Sosiologi FISIP Unila. Foto. @teknokraunila

INILAMPUNG.com - Proses hukum terhadap kasus tewasnya mahasiswa Universitas Lampung (Unila) Aga Trias Tahta (19) saat mengikuti pendidikan dasar (diksar) pencinta alam, terus berlanjut.

Setelah ditetapkan sebagai tersangka, polisi akhirnya menahan 17 mahasiswa Unila yang menjadi panitia diksar Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Cakrawala Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unila.

Kapolres AKBP Popon Ardianto menyebutkan, dari 17 orang tersebut, empat diantaranya perempuan. Ke-17 mahasiwa yang jadi tersangka tersebut berinisial FT (19), MKP (20), RA (20). AR (21), HU (19), HM (19), ES (21), ZB (19), SC (19), AP (19), ZR (24), FA (22), BY (22), BM (21), KD (20), MKS (20), dan SD (21).

“Terhadap para tersangka ini disangkakan melanggar pasal 170 dan/atau pasal 351 serta pasal 359 dan/atau pasal 360 KUHP dan terhitung siang tadi (Rabu, 9-10-2019) sudah dilakukan penahanan,” ujar Popon seperti diberitakan media siber harianmomentum.

BACA JUGA

Popon menambahkan, sebelumnya penyidik melakukan pemeriksaan terhadap 19 orang saksi yang diduga terlibat dalam kematian juniornya itu.

Hasilnya, dua diantara 19 saksi tidak terlibat dalam peristiwa yang terjadi saat diksar yang dilaksanakan di Dusun Cikoa, Desa Tanjungagung Kecamatan Telukpandan, Kabupaten Pesawaran tersebut.

“Mereka yang tak terlibat atas nama An dan Ay. Hanya tercatat atau ada di susunan panitia. Tapi sama sekali tidak hadir dalam diksar itu. Setelah kami dalami, ternyata tidak ada alumni. Melainkan senior yang berstatus sebagai mahasiswa,” jelasnya.

Popon melanjutkan, masing-masing tersangka mempunyai peran berbeda. Sehingga pasal yang disangkakan juga tidak sama.

Dari 17 orang tersangka tersebut, kata Popon, 15 orang disangkakan pasal 170 dan/atau 351 KUHP dengan ancaman pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun 6 (enam) bulan. Ancaman pasal ini jika menyebabkan seseorang meninggal dunia adalah pidana penjara paling lama 12 tahun.

Sedangkan dua orang lainnya dikenakan Pasal 359 KUHP dan/atau Pasal 360 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal lima tahun penjara.

Tentang permohonan penangguhan penahanan, Popon mengatakan, saat ini pihaknya belum menerima surat permohonan dari mereka. "Nanti kan tinggal pertimbangan dari kita kan," tegasnya.

Sementara usai dilakukan penahanan, 17 orang tersangka tersebut dikabarkan langsung meminta penangguhan penahanan.

Satu tersangka atas nama Bintang akan menggunakan kuasa hukum sendiri. Sementara 16 tersangka lainnya akan diwakili kuasa hukum yang sama atas permintaan alumni.

“Sejak kemarin saya sudah mendampingi 16 orang ini sebagai saksi. Sedangkan untuk Bintang ada kuasa hukumnya sendiri,” kata Yudi Kusnadi, kuasa hukum 16 tersangka anggota diksar.

Yudi memastikan, permintaan penangguhan penahanan tinggal menunggu restu kolektif dari orang tua tersangka. Saat ini persetujuan permintaan penangguhan penahanan baru disepakati orang tua mahasiswa yang tinggal di Lampung.

“Masih menunggu keluarga mahasiswa yang dari luar kota, seperti Jakarta, dan Cianjur (Jawa Barat),” jelas Yudi.

Menurut Yudi, selain penangguhan penahanan, juga akan ditempuh upaya perdamaian dengan keluarga korban. Namun demikian dia mengakui, upaya tersebut tak serta merta menghilangkan perbuatan hukum. (red).





BERITA LAINNYA

Terpopuler