{{ message }}

PTPN VII Reposisi Lima Manajer Unit

Selasa, 10 September 2019 - 08:27:25 AM | 251 | Bisnis

PTPN VII Reposisi Lima Manajer Unit
Pelantikan lima manajer PTPN VII. Foto. Ist.

INILAMPUNG.com - Akselerasi kinerja dalam masa recovery di PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII mengharuskan manajemen melakukan dinamisasi organisasi. Target yang ditetapkan hingga akhir 2019 yang tinggal 100 hari lagi, menjadi catatan direksi setelah membaca indikator progres.

“Kita tinggal punya waktu tiga setengah bulan lagi untuk mencapai target-target yang telah kita sepakati. Oleh karena itu, saya mengajak kita semua bergerak cepat. Para manajer yang dilantik hari ini kami anggap cakap dan bisa mengakselerasi kinerja di unitnya masing-masing,” kata Direktur Utama PTPN VII Muhammad Hanugroho saat memberi sambutan pada pelantikan lima Manajer Unit di Kantor Direksi, Bandarlampung, Senin (9/9/19)

Muhammad Hanugroho yang didampingi Direktur Operasional Husairi dan beberapa pejabat utama PTPN VII yakin, reposisi ini menghasilkan energi positif untuk perusahaan. Ia mengatakan, dengan berbagai pertimbangan dan indikator kinerja, lima Unit yang berganti pimpinan bisa menjawab tantangan manajemen.

Lima manajer yang direposisi adalah Willy Mulyawan yang sebelumnya menjabat Pjs. Manajer Unit Kebun Kelapa Sawit Benyatan (Sumsel) menjadi Pjs. Manajer Unit Kedaton (Lampung Selatan). Wilson Sinaga jabatan sebelumnya sebagai Asisten Kepala Tanaman Unit Kedaton menjadi Pjs. Manajer Unit Senabing (Lahat). Tri Sutanto Pjs. Manajer Unit Bekri (Lampung) menjadi Pjs. Manajer Unit Kebun Kelapa Sawit Padang Ratu (Lampung Tengah).

Selanjutnya, Ari Askari Pjs. Manajer Pabrik Gula Cintamanis (PT. BCN, Sumatera Selatan) menjadi Pjs. Manajer Unit Bekri. Dan yang terakhir, Budi Suntaso Pjs. Manajer Unit Senabing menjadi Pjs. Manajer Unit Kebun Kelapa Sawit Benyatan.

Oho, sapaan Muhammad Hanugroho menegaskan, jabatan setingkat pimpinan unit memang lebih dinamis dari pada jabatan lainnya. Sebab, kata dia, di balik kebijakan untuk memilih pimpinan unit, terdapat target-target yang menuntut kinerja melebihi ekspektasi yang diperkirakan.

“Reposisi ini adalah dinamika di unsur pimpinan unit. Ini adalah konsekuensi yang sejak sebelum diberikan, seorang manajer sudah tahu ekspektasi dari pemberi tugas. Bukan hanya manajer, BOD juga demikian. Manajemen memperhatikan kebutuhan, kecakapan dan ketepatan dari masing-masing saudara untuk menempati posisi saat ini”, kata dia.

Senada, Direktur Operasional Husairi dalam pengarahannya menegaskan soal pakta integritas. Pria ceplas-ceplos ini mengatakan, sebagai pimpinan di unit yang telah berjalan, setiap manajer baru harus cepat mencari celah untuk memacu kinerja. Namun demikian, ia menekankan agar melanjutkan kebijakan-kebijakan pimpinan unit sebelumnya agar ada kesinambungan program.

“Saya sampaikan selamat bekerja. Saya tegaskan, bahwa pakta integritas adalah hal yang mutlak menjadi acuan dalam menjalankan amanah dan jabatan. Tidak ada kebijakan yang salah dari manajer sebelumnya, yang dibutuhkan adalah akselerasi dan lebih kreatif menembus kebuntuan. Kita harus mengejar target produksi, bagaimanapun caranya. Dan Anda kami pilih karena kami pandang mampu menggerakkan,” kata dia.

Husairi juga berpesan agar semua pejabat dalam melaksanakan tugasnya terus koordinasi dan mengintensifkan komunikasi. Hal ini agar tidak ada program atau rencana yang stagnan yang menjadi faktor penghambat semua sistem.

“Tidak ada masalah yang tidak bisa dipecahkan. Kuncinya, kordinasi dan komunikasikan. Jangan pernah kita atau di unit kita yang menjadi penghambat lajunya sistem. Jangan bikin statmen apapun jika tidak tahu masalah yang sebenarnya. Sebab, statemen yang muncul pada masalah yang belum klir akan menjadi rumor yang tidak produktif di internal, terlebih juga di ekternal,” kata dia.

Kepada para manajer yang baru dilantik, Husairi juga meminta untuk menciptakan suasana kerja yang menyenangkan di semua level. Atmosfer kerja yang kondusif dan aman dari gosip dapat diciptakan dengan pendekatan personel dan humanis dari unsur pimpinan.

“Jangan gunakan pendekatan kekuasaan kepada saudara-saudara kita yang menjadi ujung tombak produksi. Mereka adalah pahlawan-pahlawan kita, dari pemanen, penyadap, dan semua mereka. Jangan mudah marah kepada mereka, tetapi bimbing dengan pendekatan humanis atau persuasi kemanusiaan. Kalau suasana hatinya dongkol, sulit mereka bekerja maksimal,” kata dua.

Mantan Direktur Operasional di PTPN IV ini juga berpesan agar sebagai pimpinan bisa memelihara sikap simpati dan empati. Jabatan yang baru saja disematkan, kata dia, adalah amanah berat yang memiliki nilai strategis bisnis sekaligus pengabdian.

“Segera bekerja, sederhakanan seremonial. Tidak perlu ada pesta untuk perpisahan atau sejenisnya. Sederhana, tetapi berkesan,” kata dia. (rel).



Terpopuler