{{ message }}

Setelah Nusron, Bowo Seret Menteri Jokowi dalam Kasus 400 Ribu Amplop

Rabu, 10 April 2019 - 09:40:38 AM | 664 | Hukum

Setelah Nusron, Bowo Seret Menteri Jokowi dalam Kasus 400 Ribu Amplop
Bowo Sidik Pangarso. Foto. Ist.

INILAMPUNG.com - Kian dekat dengan hari pencoblosan, situasi politik tanah air semakin panas. Antara lain dipanasi oleh kasus 400 ribu amplop cap jempol berisi uang yang diduga akan digunakan untuk serangan fajar pada pemilu 17 April 2019 mendatang.

Setelah menyebut nama salah satu pengurus Partai Golkar Nusron Wahid, tersangka kasus yang diungkap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Bowo Sidik Pangarso membuat kembali melemparkan bola panas.

Boso Sidik, Anggota DPR dari Fraksi Golkar itu tidak hanya menyeret sejawatnya, Nuron Wahid. Tetapi, ada satu menteri di Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo atau Jokowi yang diduga terlibat dalam kasus 400 ribu amplop.

Dugaan ada menteri di Kabinet Jokowi itu disampaikan Bowo Sidik melalui pengacaranya, Saut Edward Rajagukguk. Yang disebutkan, oknum menteri itu menjadi sumber dari 400 ribu amplop amunisi serangan fajar.

Seperti diberitakan cnnindonesia, total uang dalam 400 ribu amplop tersebut sekitar Rp8 miliar. Uang sebanyak itu terdiri dari pecahan Rp20 ribu dan Rp50 ribu yang dimasukkan ke dalam masing-masing amplop.

Baja Juga:

"Yang memenuhi Rp8 miliar yang ada di amplop dari salah satu menteri di kabinet ini," kata Saut saat mendampingi Bowo menjalani pemeriksaan sebagai tersangka di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Rabu (10-4-2019).

Namun Saut tak menjelaskan identitas atau nama menteri Kabine Jokowi yang dia maksud sebagai sumber uang dalam 400 amplop untuk serangan fajar itu.

Bahkan, Saut juga menyebutkan, tidah hanya menteri. Tetapi juga ada seroang direktur BUMN yang turut menjadi sumber dari uang Rp8 miliar itu. Namun, lagi-lagi Saut tak bersedia mengungkap identitas BUMN yang dimaksudkan.

Kendati demikian, dia menyatakan Bowo akan kooperatif dengan KPK untuk mengungkap tuntas kasus dugaan suap kerja sama pelayaran antara PT Pupuk Indonesia Logistik dan PT Humpuss Transportasi Kimia.

"Harus kooperatif. Ada Menteri, ada direktur BUMN," kata Saut.

Dalam kasus ini, Bowo bersama Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia, Asty Winasti dan karyawan PT Inersia, Indung ditetapkan sebagai tersangka suap kerja sama distribusi pupuk PT PILOG dengan PT HTK.

Bowo diduga meminta fee kepada PT HTK atas biaya angkut yang diterima sejumlah US$2 per metric ton. Diduga telah terjadi enam kali penerimaan di sejumlah tempat sebesar Rp221 juta dan US$85.130.

Uang sekitar Rp8 miliar dalam pecahan Rp20 ribu dan Rp50 ribu itu telah dimasukkan dalam amplop-amplop. Uang tersebut diduga bakal digunakan Bowo untuk serangan fajar Pemilu 2019. (*/cnnindonesia)




BERITA LAINNYA

Terpopuler