{{ message }}

Abdul Somad, Gatot Nurmantyo, Dahlan Iskan dan Para Game Changer

Sabtu, 13 April 2019 - 11:38:47 AM | 1596 | Opini

Abdul Somad, Gatot Nurmantyo, Dahlan Iskan dan Para Game Changer
Ilustrasi hersubenoarief.com

Oleh: Hersubeno Arief

Dalam permainan sepakbola ada sejumlah nama yang dikenang karena masuk lapangan di menit akhir, namun berhasil mengubah total permainan.

Di Liga Inggris yang sangat dikenang yakni Ole Gunnar Solkjaer (Manchester United), Fernando Tores (Chelsea). Di Tim nasional ada David Trezeguet (Perancis), dan Tim Krul ( Belanda).

Mereka ini adalah beberapa nama yang dikenang sebagai game changer. Memasukkan gol di last minute dan membuat timnya menang. Mereka mengubah permainan.

Dalam beberapa hari terakhir kita menyaksikan fenomena serupa dalam mendekati akhir kampanye Pilpres 2019.

Kemarin (11/4) kita menyaksikan Ustad Abdul Somad secara terbuka menyampaikan dukungan kepada Prabowo. Di Surabaya hari ini Jumat (12/4) kita menyaksikan dua orang “pemain” besar lagi masuk di tim Prabowo. Mereka adalah Dahlan Iskan dan Gatot Nurmantyo.

Masuknya tiga orang ini dalam barisan Prabowo dipastikan akan mengubah secara signifikan permainan.

Andai saja ada lembaga survei yang bisa melakukan jajak pendapat dalam satu hari, pasti kita bisa menyaksikan perubahan besar-besaran dalam peta persaingan antara kubu Jokowi Vs kubu Prabowo.

Seperti menyaksikan pertandingan sepakbola pada menit-menit akhir, sangat mengasyikkan, menguras emosi dan adrenalin.

Abdul Somad tidak perlu kita ragukan. Pengikutnya berjumlah jutaan. Saking besarnya pengaruhnya, LSI Denny sampai berani menyimpulkan, Jokowi akan menang kalau UAS netral.

Berbagai upaya dilakukan untuk membuat UAS tetap dalam posisinya tidak memihak. Ketua PPP Romahurmuziy sebelum ditangkap KPK mengaku sudah melakukan pendekatan dan membuat UAS bersama Aa Gym dalam posisi netral. Dua da’i ini memang punya pengikut besar. Klaim itu dibantah Aa Gym.

Sekarang setelah UAS menyatakan dukungan, Denny menilai sudah tak ada gunanya. Tak ada pengaruhnya sama sekali. Too little, and too late. Kagak ngaruh dan terlampau kecil.

Tapi sudahlah, tak perlu dipikirkan omongan maupun tulisan Denny. Anggaplah dia seorang komentator yang berpihak, dan sudah kehilangan akal sehatnya.

Dahlan Iskan juga bukan figur sembarangan, terutama di Jawa Timur. Mantan Menteri BUMN era SBY dan pendiri jaringan media Jawa Pos ini bisa disebut sebagai penguasa sebenarnya di Jatim. Para Gubernur boleh berganti, namun semua harus tetap memperhitungkan pengaruh Dahlan.

Gatot Nurmantyo mantan Panglima TNI punya gerbong pendukung yang cukup besar. Dia sebelumnya bahkan digadang-gadang menjadi capres penantang Jokowi.

Sebagai mantan Pangdam Brawijaya Gatot juga punya jejaring yang sangat kuat di Jatim. Dia juga dikenal sangat dekat dengan ulama yang menjadi kunci untuk memenangkan suara di Jatim.

Bergabungnya Dahlan Iskan dan Gatot akan berpengaruh sangat besar terhadap konstelasi politik di Jatim. Provinsi dengan jumlah pemilih kedua terbesar ini merupakan salah satu kantong suara Jokowi di luar Jawa Tengah.

Kemenangan besar di Jateng dan keunggulan di Jatim memberi kontribusi besar kemenangan Jokowi pada Pilpres 2014.

Hadirnya Abdul Somad, Dahlan Iskan, Gatot Nurmantyo membuat kubu Prabowo berada di atas angin. Sebelumnya secara tak langsung Prabowo juga sudah mendapat isyarat dukungan dari Sri Sultan Hamengku Bawono X.

Belum lagi bila kita menyebut sejumlah nama yang hadir pada Pidato Kebangsaan. Ada mantan Wamenhan Letjen TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin, mantan Menko Polhukam Laksamana TNI (Purn) Tedjo Edy Purdjianto, mantan KSAU Marsekal TNI (Purn) Imam Sufaat, mantan komisioner Komnas HAM Natalius Pigai, pengamat militer Prof Salid Said, dan sejumlah nama populer lainnya.

Beberapa diantara mereka sebelumnya dikenal sebagai pendukung Jokowi, sekarang berpindah gerbong. Dahlan Iskan secara terbuka mengaku bersama relawannya menjadi pendukung Jokowi pada Pilpres 2014. Namun seiiring waktu pemerintahan Jokowi tidak seperti yang dia harapkan.

Tedjo Edy mantan Menko pada kabinet Jokowi malah sudah ingin mengundurkan diri setelah 6 bulan menjabat. Kebijakan Jokowi banyak yang mengecewakan. Apalagi setelah Luhut B Panjaitan masuk kabinet.

Masuknya para game changer ini harus benar-benar diwaspadai Jokowi. Sebab tidak tertutup kemungkinan akan masuk sejumlah nama yang bisa menjadi game changer.

Berkembang info yang sangat kuat, di hari terakhir kampanye sejumlah ulama dan tokoh berpengaruh akan ikut memperkuat barisan rakyat bersama Prabowo.

Bila benar itu terjadi, para game changer ini bisa benar-benar membuat Jokowi game over!

sumber: hersubenoarief.com




BERITA LAINNYA

Terpopuler