{{ message }}

Mahasiswa Estafet Generasi: Ke Mana Mereka?

Sabtu, 2 Maret 2019 - 04:49:06 AM | 229 | Opini

Mahasiswa Estafet Generasi: Ke Mana Mereka?
Demo mahasiswa1998, merutuhkan rezim otoriter Orde Baru. Foto. Ist.

Oleh: Handoko

FENOMENA yang sangat memprihatikan hampir setiap hari kita saksikan tentang bagaimana perilaku para pemegang kekuasaan di negeri ini. Tentu, hal ini harus dilawan.

Para pemegang kekuasaan itu bersembunyi dibalik papan atas nama amanat rakyat yang kemudian memainkan peran kamuflase. Korupsi, kolusi dan nepotisme menjadi budaya dan tren yang sangat populer melekat pada jiwa penguasa sehingga mengubah tatanan perekonomian secara makro.

Berbagai macam cara dilakukan oleh sang penguasa untuk melegalkan perbuatannya. Pada akhirnya, watak yang di tampilkan oleh sebuah kekuasaan adalah “watak jahat”.

Kekuasaan yang berwatak jahat akan menghasilkan supra struktur dan hukum seperti anjing penjaga yang terbungkus kedalam berbagai doktrin yang digunakan untuk mengendalikan kekuasaan.

Ujaran kebencian terhadap agama dan ayat–ayat Alquran dipelintirkan ke kanan dan ke kiri, disulap sebagai senjata untuk membuat kebenaran serasa bualan. Sehingga kejahatan terlihat menjadi benar.

Padahal sebagai pemegang kekuasaan, orientasi kebijakan pada kesejahtraan masyarakat harus dikedepankan. Otoritas yang dimiliki harus dipergunakan sebaik mungkin sehingga output yang dicapai adalah “kesejahteraan”.

Ciri ciri kekuasaan yang baik (Benevolent) adalah, (1) kekuasaan yang berwatak mengabdi pada kepentingan umum, (2) Kekuasaan yang melihat kepada lapisan masyarakat yang susah, (3) Kekuasaan yang selalu memikirkan kepentingan public, (4) Kekuasaan yang kosong dari kepentingan subyektif, (5) Kekuasaan yang mengasihani. (Satjipto Raharjo, 2010: 158)

Terjebak Dalam Arus

Di tengah perburuan dunia ini, mahasiswa bukannya memerangi, tetapi justru cenderung ikut terjerumus pada pusaran pusaran matrealisme dengan seluruh antek antek ideologinya.

Bagaimana ideologi tersebut sangat deras membanjiri otak-otak manusia sehingga membendung akal sehat dan nuraninya untuk keluar dari fenomena di atas. Sepertinya mereka sudah kehilangan harta yang paling berharga, yaitu “nurani” dan “akal sehat”.

Tapi anehnya, kehilangan itu tidak menjadi sebuah penyesalan yang berarti. Justru mereka lalai akan apa yang terjadi. Cara pandang, gaya hidup, kecenderungan berfikir pada satu doktrin yang abal-abal, pilihan hidup, semua menuju kubangan besar yang bernama “hdonisme” dan saudara kembarnya “materialisme”.

Meskipun tidak semua, kebanyakan mahasiswa dewasa ini mampu mengkritik kubangan bersaudara tersebut (hedonisme dan matrealisme). Namun nyatanya merekalah yang terjebak dalam buaian-buaian hedonis-materialis.

Mereka tidak sadar, alih-alih membela kepentingan rakyat, justru mereka malah memupuk praktek hedonis-matrealis sejak dini sehingga tumbuh dengan subur dan membuka peluang untuk memunculkan generasi baru sang penguasa “Jahat” di generasi yang akan datang.

Hilang Karena Sistem

Tak bisa dipungkiri, kisah heroik gerakan mahasiswa telah menggoreskan banyak catatan-catatan gerakan pembaharuan. Sikap kritis dan kepedulian terhadap kondisi riil masyarakat terus dimiliki mahasiswa sehingga tak segan-segan melakukan pengorbanan demi kejayaan bangsanya.

Bisa kita lihat di Indonesia, sejak Sumpah Pemuda sampai Proklamasi Kemerdekaan, kaum intelektual muda sudah memiliki peran besar. Reformasi adalah contoh yang paling dekat yang dapat kita pelajari. Bagaimana reformasi dapat meruntuhkan rezim otoritarian Orde Baru dan mewujudkan sebuah tatanan demokrasi bagi Indonesia baru.

Berbagai catatan sejarah tersebut, tentu, akan menjadi sebuah poin penting bagi para penguasa “jahat” yang menduduki kursi “supra-struktur”. Mahasiswa yang kritis dan peka akan lingkungan akan memiliki potensi ancaman terhada para pemangku kekuasaan yang korup dan otoriter.

Lewat berbagai pola kebijakan dan teknik, upaya pelemahan, penggerusan maupun pembekuan gerakan mahasiswa lewat berbagai kebijakan sistem akademik terus dilakukan.

Pertama, kebijakan sistem SKS (kredit semester) dan drop out (DO). Dalam perspektif kampus, kebijakan ini merupakan upaya menjaga mutu fakultas atau jurusan yang bersangkutan.
Namun dalam pandangan kebutuhan gerakan mahasiswa, sistem ini justru mengorientasikan mahasiswa untuk fokus hanya pada soal akademik dan mengesampingkan kebutuhan sosial-politik bangsa akan hadirnya mahasiswa yang kritis dan peduli, mahasiswa menjadi takut akan sistem ini dan terpaku pada huruf dan angka.

Kedua, Mahalnya biaya di perguruan tinggi menjadikan mahasiswa tidak ingin terlibat dalam organisasi kemahasiswaan serta hanya berpikir kuliah dan mendapatkan hasil ujian memuaskan.

Ketiga, pembangunan paradigma mahasiswa akademis yang berkutat di ruang pengap (ruang kuliah dan perpustakaan). Keempat, pemberian beasiswa kepada para aktivis kampus yang dinilai vokal dan rajin mengkritik.

Indikasi-indikasi di atas perlu diperhatikan cermat dan dikoreksi ulang. Perlu adanya perbaikan pada pemikiran tersebut. Tidak semua aktivis akan merosot pada akademiknya dan sebaliknya.

Mahasiswa yang terjangkit pada penyakit kronis materialis-hedonis ini lah yang harus di garis bawahi. Saat ini pusaran materialis-hedonis mahasiswa harus diakui semakin mengakar di tengah gerakan mahasiswa.

Masuk kuliah sekadar mengisi presensi, mencatat jika tidak malas, melakukan copy-paste pada tugas makalah dan paper serta menyontek saat ujian telah berjangkit lama di dunia kampus.

Oleh sebab itu, kecakapan dalam kepemimpinan, kritis dan tanggap dalam melihat masyarakat, itu bisa diperoleh dari dunia gerakan (gerakan mahasiswa) yang tentunya memerangi hedonis-matrealis. (*).

Handoko
Ketua PC IMM Pringsewu Bidang Riset dan Keilmuan




BERITA LAINNYA

Terpopuler