{{ message }}

Politik Nama Jalan

Minggu, 21 Oktober 2018 - 11:57:49 AM | 1568 | Opini

Politik Nama Jalan
Masjid Cut Muetia Jakarta. (foto: ibunu munzir).

INILAMPUNG.COM - Saat bekerja di Jakarta, saya biasa makan siang di pelataran Masjid Cut Meutia, Menteng. Sambil mengunyah nasi kebuli bebek nangkring, saya sering bertanya-tanya mengapa masjid ini dan jalan di depannya menggunakan nama pahlawati kelahiran Keureutoe, Aceh Utara?

Menurut sejarawan JJ Rizal, jalan ini pada masa colonial bernama Van Heutszplein, merujuk pada Van Heutz yang menjadi pahlawan kolonial Belanda karena berhasil memenangkan Perang Aceh.

Pahlawan kolonial Belanda adalah musuh di mata Indonesia. Karenanya, setelah proklamasi 1945, nama Van Heutszboulevard dan Van Heutszplain pun segera diganti dengan nama lawannya: Jalan Teuku Umar dan Jalan Cut Meutia. Nama jalan adalah sebuah pernyataan politik!

Tidak hanya sebagai simbol perlawanan, nama jalan juga bisa menjadi penanda rekonsiliasi. Perselisihan Patih Gajah Mada dan Prabu Maharaja Linggabuana berujung pada terbunuhnya sang raja beserta putrinya.

Pasundan Bubat 1357 menggoreskan luka budaya antara Sunda dan Jawa yang bertahan ratusan tahun kemudian.

Akibat rencana perkawinan Raja Hayam Wuruk dan Putri Dyah Pitaloka Citaresmi yang berujung tragis, hingga hari ini masih ada yang berpendapat bahwa Sunda dan Jawa tidak boleh menikah.

Gubernur Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur pun bertemu dan menyepakati bahwa akan ada perubahan nama jalan sebagai penanda rekonsiliasi budaya antara tiga budaya.

Semangat rekonsiliasi budaya akhirnya membuat kita bisa menjumpai Jalan Majapahit dan Jalan Hayam Wuruk di Bandung, Jalan Siliwangi, Jalan Pajajaran, Jalan Brawijaya, dan Jalan Majapahit di Jogjakarta serta Jalan Sunda dan Jalan Prabu Siliwangi di Surabaya.

Akan menarik jika ada yang serius mengkaji politik penamaan jalan. Sejarah ditulis oleh pemenang. Begitu pun nama jalan, ditentukan oleh penguasa. Apa yang menjadi pertimbangan penguasa dalam pemilihan nama jalan? Apa makna simbolik yang ingin diproduksi dengan pemilihan nama jalan tertentu?

Apakah penamaan jalan dengan nama pahlawan yang sama di berbagai pulau adalah bagian dari upaya untuk membangun identitas ke-Indonesia-an dengan pahlawan yang sama?

Mengapa kita sulit menemukan jalan dengan nama pahlawan yang berjuang di jalur diplomasi? Mengapa Jalan Tan Malaka hanya bisa dijumpai di Payakumbuh, Padang, dan Bukit Tinggi?

Mengapa tidak ada Jalan Mohammad Natsir? Menjumpai Jalan Ahmad Yani di Banda Aceh dan Jayapura, membuat kita bertanya mengapa “Pahlawan Revolusi” menjadi kategori pahlawan favorit untuk nama jalan? Akan kah kita memiliki Jalan Munir sebagaimana Kota Den Haag?

Sembari menunggu yang serius mengkaji nama jalan, apa nama jalan unik di kotamu?

Ibnu Munzi




BERITA LAINNYA

Terpopuler