{{ message }}

Obat Tidur Berefek Samping Serius dalam Jangka Panjang

Rabu, 10 Oktober 2018 - 11:51:19 AM | 213 | Sex & Kesehatan

Obat Tidur Berefek Samping Serius dalam Jangka Panjang
ilustrasi

INILAMPUNG.COM - Penyakit sulit tidur pada malam hari bisa menimpa orang di mana saja. Seperti di Amerika ada puluhan jutaan orang harus berjuang keras supaya bisa tidur lelap di malam hari. Akibatnya, banyak dari mereka mengandalkan pil tidur sebagai bantuan.

Sebuah penelitian terbaru diterbitkan dalam American Journal of Geriatric Psychiatry menemukan satu dari tiga orang dewasa berusia 65 hingga 80 tahun di negara itu menggunakan obat-obatan setidaknya sesekali supaya bisa tertidur.

Para ahli prihatin karena sejumlah alasan. Penelitian mengaitkan penggunaan obat tidur (OTC) berefek samping serius dalam jangka panjang.


“Banyak alat bantu tidur mengandung diphenhydramine,” kata Dr. Donovan Maust, peneliti dan asisten profesor psikiatri di Michigan Medicine, dikutip dari Time Health, Rabu (10/10/2018).

Diphenhydramine adalah obat antikolinergik, berarti memblokir aktivitas kimia otak yang disebut asetilkolin, yang memainkan peran aktivasi otot juga fungsi otak seperti kewaspadaan, belajar dan memori.

Akibat efek pemblokiran ini, obat OTC dapat menyebabkan sembelit, kebingungan dan efek samping lainnya. Maust katakan lebih mungkin memengaruhi orang dewasa yang lebih tua. Untuk alasan ini, American Geriatric Society menganggap obat-obatan ini tidak pantas untuk para manula.

Efek samping pil OTC juga dapat memicu riam menentukan, kata Jennifer Schroeck, apoteker klinis Departemen Urusan Veteran AS Sistem Kesehatan New York dan peneliti tahun 2016 yang diterbitkan dalam jurnal Clinical Therapeutics.

Sebagai contoh, pria dengan kondisi prostat, obat antikolinergik dapat menyebabkan retensi urin. Atau masalah sepenuhnya mengosongkan kandung kemih, kata Schroeck.

Ada juga kekhawatiran risiko lain lebih serius terkait obat-obatan OTC. "Kekhawatiran lain bukti yang berkembang bahwa penggunaan jangka panjang meningkatkan risiko demensia dan semakin banyak digunakan, semakin besar risikonya," kata Maust. (aja/inilampung.com)



Terpopuler