{{ message }}

Karimun Ekspor Perdana Nanas dan Pisang ke Singapura

Sabtu, 20 Oktober 2018 - 04:26:07 AM | 1352 | Bisnis

Karimun Ekspor Perdana Nanas dan Pisang ke Singapura
Ekspor perdana dan peresmian Unit Penanganan Segar. (inilampung.com/ist).

INILAMPUNG.COM - Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau melakukan ekspor perdana pisang dan nanas kundur ke Singapura.

Ekspor 5 ton nanas kundur dan 1 ton pisang itu diresmikan Bupati Karimun H. Aunur Rafiq bersama Dirjen Hortikultura Suwandi pada Sabtu (20/10/2018).

Pada peluncuran itu sekaligus diresmikan Unit Penanganan Segar (Packing House Operation/PHO) Buah Ekspor yang berlokasi di Tanjungberlian, Pulau Kundur, Kabupaten Karimun.


Pulau Kundur merupakan penghasil nanas dan pisang di Kepulauan Riau dengan luas areal pertanaman sekiar 300 hektare dengan produksi mencapai 20 ton per minggu.

Potensi nanas dan pisang kundur itu, berpeluang dijadikan komoditas ekspor andalan Pulau Kundur. Target ekspornya, Singapura yang letaknya dekat dengan Pulau Kundur.

Untuk mewujudkan itu, menurut Kepala BB Pascapanen Risfaheri, Dinas Pangan dan Pertanian Karimun menggandeng Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) khususnya Balai Besar Pascapanen sebagai penyedia teknologi sekaligus line proses penanganan segar buah ekspor.

Ditjen Hortikultura menyediakan bangunan PHO serta fasilitasi ekspor serta PT Alamanda Sejati Utama sebagai eksportir untuk pasar Singapura.

Balai Besar Pascapanen berperan memberikan rekomendasi teknologi. Balai Besar Pascapanen melengkapi peralatan-peralatan yang diperlukan oleh suatu unit penanganan segar buah (PHO), seperti penyediaan alat pembersih nanas (blast air compressor), meja-meja persiapan dan sortasi, bak pencucian dan ozon generator.

Dengan fasilitas PHO yang cukup memadai diharapkan dapat memenuhi kualifikasi yang diinginkan oleh negara tujuan ekspor, jelas Risfaheri dalam siaran pers yang diterima inilampung.com, Sabtu (20/10/18).

Disebutkan, ekspor perdana ke Singapura sebanyak 5 ton nanas kundur dan 1 ton pisang. Selanjutnya, target ekspor hingga akhir 2018 sebanyak 10 ton per minggu. Pada 2019 meningkat menjadi 20 ton per minggu.

Untuk bisa mencapai target tersebut banyak hal yang harus disiapkan antara lain fasilitas cold room, perbaikan sistem budidaya di lapang, dan perluasan bangunan PHO.

Sejak 2016, Kabupaten Karimun bersama Kabupaten Lingga dan Bintan sebagai lokasi program Lumbung Pangan Berorientasi Ekspor – Wilayah Perbatasan (LPBE-WP). Kabupaten Karimun berhasil mewujudkan pada 2018.

Sementara Suwandi dalam sambutannya menyampaikan, saat rupiah melemah, ekspor adalah pilihan yang tepat untuk menjaring devisa. Dia berharap ke depan ada industri hilir sehingga ada peningkatan nilai tambah. (rls/S.M. Widayanti).



Terpopuler