{{ message }}

Bahagia Bersama Kusala Sastra Khatulistiwa

Senin, 15 Oktober 2018 - 08:22:15 AM | 1863 | Opini

Bahagia Bersama Kusala Sastra Khatulistiwa

 

Oleh: Ibnu Munzir.

INILAMPUNG.COM - Ada ledakan publikasi karya sastra di Indonesia saat ini. Di sisi lain, waktu untuk membaca semakin sedikit dan lemari buku semakin sempit. Saya harus selektif memilih buku apa yang perlu dibeli. Akhirnya, karya sastra pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa dan prosa tentang Aceh menjadi kriteria buku sastra pilihan saya.

Tahun ini, pemenang prosa Kusala adalah Kura-Kura Berjanggut, sebuah novel (paling) ambisius tentang Aceh yang berkisah sejak masa Lamuri. Buku ini sudah saya beli sebelum pengumuman Kusala sehingga pengumuman Kusala tahun ini tidak menambah koleksi prosa saya.

Sebelum bersama Kura-Kura, Kusala mampir ke Aceh dalam Lampuki (Arafat Nur, 2011) yang bercerita tentang gejolak di Aceh pasca kejatuhan Soeharto dan sebuah cerita pendek dalam Rahasia Selma (Linda Christanty, 2010). Tentang Papua, Kusala mengapresiasi Isinga: Roman Papua (Dorothea Rosa Herliany, 2015) yang menuturkan kompleksitas modernisasi yang bisa menjadi sebentuk invasi budaya.

Jauh sebelum itu, Kuda Terbang Mario Pinto (Linda Christanty, 2004) membawa kisah di Timor Leste meraih Anugerah Sastra Khatulistiwa. Menarik juga kalau ada mahasiswa/i sastra yang menulis skripsi tentang "Narasi Aceh, Papua, dan Timor Leste dalam Prosa Peraih Kusala Sastra Khatulistiwa."

Sepuluh dari 18 prosa yang pernah memenangkan Kusala diterbitkan oleh Kelompok Gramedia. Buku-buku itu mudah dicari di jaringan toko buku arus utama (saat baru terbit). Tiga tahun terakhir, prosa pemenang Kusala diterbitkan oleh baNANA dan Marjin Kiri yang tidak diedarkan melalui jaringan toko buku arus utama. Saya mendapatkan Raden Mandasia, Dawuk, dan Kura-Kura di Toko Buku Post, Pasar Santa atau memesan ke penerbit dan penulis.

Novel yang paling sulit dicari adalah Lembata (F Rahardi, 2008) yang diterbitkan oleh Penerbit Lamalera. Alhamdullilaah, putri penulis kuliah di almamater yang sama sehingga dapat juga novel yang bercerita tentang pergulatan seorang romo muda dalam melawan kemiskinan dan (terutama) pemiskinan di Nusa Tenggara.

Di minggu pagi, diiringi rintik hujan dan aroma petrikor yang menguar dari halaman rumah, memandang kumpulan karya peraih Kusala Sastra Khatulistiwa membuat saya merasa bahagia ***

Ibnu Munzir
Alumni Universitas Indonesia




BERITA LAINNYA

Terpopuler