{{ message }}

Tafsir Kekuasaan Menurut Maruf Amin dan Sandiaga Uno

Sabtu, 11 Agustus 2018 - 11:25:53 AM | 303 | Politik

Tafsir Kekuasaan Menurut Maruf Amin dan Sandiaga Uno
Jokowi dan Maruf Amin

INILAMPUNG.COM - Maruf Amin tidak seperti rivalnya, Sandiaga Uno, begitu ditunjuk menjadi calon wakil presiden, langsung mengundurkan diri. Sandiaga sebelum mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) bersama Prabowo Subianto, menyampaikan surat pengunduran diri sebagai wakil gubernur DKI Jakarta.

Sandi juga mengundurkan dari sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra. Sehingga ia mencalonkan diri dari independen.

Maruf Amin hingga pendaftaran dengan calon Presiden Petahana Joko Widodo ke KPU, statusnya masih Ketua PBNU dan Ketua Umum MUI. Meski didesak berbagai pihak agar segera mengundurkan diri, agar Ormas Islam itu netral, Maruf menanggapi biasa saja.

“Itu nanti PBNU mengatur sesuia AD/ART. Saya harus apa?” Ma’ruf balik bertanya, di Jakarta, Jumat (10/8). Namun, ia siap mengikuti aturan organisasi jika harus mundur karena pencalonannya itu.

Dewan Pakar ICMI Pusat Anton Tabah meminta Maruf mundur dari dua jabatan tersebut, karena dikhawatirkan akan merusak independensi organisasi. “Jangan sampai MUI maupun PBNU dijadikan alat kampanye apalagi alat klaim representasi MUI maupun NU,” katanya, Jumat (10/8).

Pernyataan Maruf Amin soal ijtima ulama juga mendapat kritikan dari Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Arief Poyuono.

"Ada belah sono ngomong, ya, menghargai ulama. Menghargai ulama tapi hasil ijtima ulama-nya nggak didengerin, malah wakilnya bukan ulama," kata Maruf, Jumat (10/8).

Arief menilai, tidak semestinya Maruf mencampuri urusan orang lain, apalagi partai koalisinya tidak mencela dia.

"Kita hormati Mang Maruf sebagai ulama mau jadi wakilnya Pak Joko Widodo. Itu kita hormati, kita tidak mencela dia. Sekarang kok dia ikut-ikutan urusan kami?" katanya.

Justru Arief mempertanyakan sikap Maruf yang bersedia jadi cawapres Jokowi. Ulama seperti Ustaz Abdul Somad malah menolak tawaran cawapres karena mementingkan umat dan berdakwah. "Justru ulama-ulama itu lebih mementingkan kepentingan ulama yang besar," kata dia. (aja/inilampung.com)

 




BERITA LAINNYA

Terpopuler