{{ message }}

Eksodus Venezuela: Tragedi Melampaui Suriah

Rabu, 29 Agustus 2018 - 12:07:46 PM | 1919 | Opini

Eksodus Venezuela: Tragedi Melampaui Suriah
Rakyat Venezuel jalan kaki mengungsi ke negara tetangga (inilampung.com/ist)

INILAMPUNG.COM - Krisis ekonomi telah membebani rakyat Venezuela sejak tahun 2014. Rakyat dihadapkan hiperinflasi dan kekurangan makanan dan obat-obatan. Rakyat Venezuela akhirnya memutuskan meninggalkan negaranya dengan pesawat, kapal, bahkan berjalan kaki.

Organisasi Internasional PBB untuk Migrasi (IOM) memperkirakan 2,3 juta orang Venezuela meninggalkan negara mereka, lebih dari 1,5 juta orang tinggal di negara-negara Amerika Selatan lainnya.

Namun, jumlahnya diperkirakan meningkat. "Angka itu mungkin lebih tinggi karena sebagian besar sumber data tidak memerhitungkan orang Venezuela yang melintasi perbatasan secara informal dan dengan status tidak teratur," kata Badan Pengungsi PBB (UNHCR).

Eksodus yang dialami Venezuela sejak 2014 adalah salah satu pemindahan massal terbesar dalam sejarah Amerika Latin, kata Luisa Feline Freier, asisten profesor ilmu sosial dan politik Universidad del Pacifico, Peru, dinukil dari Euronews, Rabu (29/8/2018).

"Dari segi skala itu sebanding dengan eksodus Suriah dan ada kemungkinan eksodus Venezuela melampaui Suriah," katanya.

Angka-angka terbaru menunjukkan ada lebih dari 5 juta pengungsi Suriah terdaftar di UNHCR di Turki, Libanon, Yordania, Irak, Mesir, dan Afrika Utara. Tidak seperti Suriah, Venezuela tidak dalam konflik bersenjata.

"Saya mewawancarai para migran beberapa bulan yang lalu dan mereka mengatakan tidak makan apa pun kecuali tepung dicampur air karena tidak mampu beli beras," kata Freier.

(Apa yang terjadi di Venezuela) adalah krisis kemanusiaan di luar imajinasi. Orang-orang pergi untuk bertahan hidup.

Karena hiperinflasi membuat mata uang lokal tidak berharga, Orang-orang dipaksa menjual segalanya untuk membeli tiket bus ke luar negeri.

Tiket bus ke Peru sekitar 130 dolar AS, jadi mereka menjual segalanya untuk membeli tiket dan mereka yang tidak mampu membelinya dengan jalan kaki ke Peru, kata sang profesor.

Amerika Serikat menjadi tujuan populer di tahun-tahun sebelumnya, sebagian besar orang Venezuela bermigrasi ke negara-negara tetangga, data dari IOM.

Rakyat Venezuela mengungsi ke Kolombia

Berbondong-bondong ke Kolombia

Dilansir dari Reuters, kini Kolombia menjadi negara utama untuk menerima aliran migrasi Venezuela. IOM memperkirakan 870.000 orang Venezuela berada di negara ini pada akhir Juli 2018 Namun, dalam beberapa tahun terakhir, para migran terus ke selatan menuju negara-negara regional seperti Peru, Chili, Argentina, Brasil, dan Ekuador.

Di Amerika Tengah, Panama adalah negara yang menerima migran paling banyak, menurut data tahun 2017. Rakyat yang punya uang melarikan diri ke tujuan jauh seperti AS dan Spanyol.

Angka-angka IOM mencatat lebih dari 208.000 orang Venezuela tinggal di Spanyol tahun 2017 dan sekitar 290.000 di AS tahun 2016.

Angka-angka UNHCR menunjukkan lebih dari 117.000 klaim suaka diajukan Venezuela tahun 2018 melebihi tahun 2017.

Pemerintah Peru telah menerima lebih dari 126.000 aplikasi suaka pada Juni 2018 (sejak 2014) jumlah tertinggi tercatat tahun ini, diikuti AS dengan lebih dari 72.000 dan Brasil dengan 32.000.

Sejumlah negara di kawasan ini memiliki pengaturan di luar sistem suaka bagi warga Venezuela untuk tinggal selama jangka waktu panjang (satu atau dua tahun) dengan akses ke layanan sosial, termasuk izin tinggal sementara dan visa kerja.

Menurut UNHCR, Kolombia memberikan izin tinggal paling legal kepada Venezuela (181.472) tahun 2018, diikuti Ekuador (83.435), dan Argentina (77.936).

Tiap hari ribuan orang Venezuela mengungsi

Eksodus tiap Hari

Menurut Freier, Kolombia menghadapi tantangan infrastruktur serius dengan sejumlah besar orang Venezuela menyeberangi perbatasan tiap hari.

Karena arus besar, banyak negara mengeraskan kebijakan migrasi mereka. Kolombia, Ekuador, dan Peru baru-baru ini meminta paspor di kontrol perbatasan. Ini tugas yang tidak mungkin bagi orang Venezuela, menurut Freier, karena korupsi dan kurangnya kertas.

"Mendapatkan paspor bisa memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun."

Awal bulan ini, Ekuador mengumumkan keadaan darurat karena volume migran Venezuela luar biasa tinggi melintasi perbatasan utara dengan Kolombia.

Freier berpendapat ketika jumlah pendatang Venezuela meningkat, sentimen xenofobia juga terjadi dan menyediakan platform bagi para aktor politik konservatif menyampaikan wacana anti-imigrasi serupa dengan yang terjadi di Eropa.

"Saya berbicara dengan banyak orang Venezuela di Peru yang mengatakan diskriminasi di Kolombia dan Ekuador begitu buruk sehingga mereka memilih pindah ke Peru," kata Freier.

Sementara, komunitas internasional tidak berbuat cukup membantu penderitaan orang-orang Venezuela yang diasingkan. (aja/inilampung.com)




BERITA LAINNYA

Terpopuler