{{ message }}

Sepak Bola Tak Bisa Hapus Rasialisme di Prancis

Sabtu, 7 Juli 2018 - 10:23:35 AM | 3127 | Opini

Sepak Bola Tak Bisa Hapus Rasialisme di Prancis
ilustrasi

INILAMPUNG.COM - Skuad nasional Prancis terdiri dari pemain beretnis dan agama minoritas. Mereka selalu memberikan perasaan dalam dan persatuan tiap dua tahun sekali, baik selama Kejuaraan Eropa atau seperti saat ini, Piala Dunia.

Rakyat di negara itu melompat-lompat di depan layar TV, saling berpelukan meski tak saling kenal, dan menyatu dalam larut kegembiraan di perayaan kemenangan.

Les Blues adalah tim simbol negara dinamis, egaliter di mana mereka yang berasal dari keturunan imigran dapat dicintai dan dihormati. Kebanggaan dan harapan pasti akan setelah Prancis menaklulan Uruguay dan lolos ke semifinal Piala Dunia 2018 Rusia.

Di tim itu ada Kylian Mbappé, putra seorang ibu Aljazair dan ayah Kamerun, bersama Paul Pogba, N’Golo Kanté, Blaise Matuidi, dan Benjamin Mendy. Semuanya berasal dari keluarga Afrika, tapi lahir dan dibesarkan di permukiman kumuh di sekitar Paris. Itu adalah daerah yang dikatakan berkumpul bakat sepak bola terbesar di dunia setelah favelas Sao Paulo.

Di luar cerita itu, kenyataan yang dihadapi berbeda. Kekerasan bukan tentang sepak bola pecah di Breil, di kota barat Nantes, pada hari Selasa.

Polisi menembak mati Aboubakar Fofana, seorang Prancis berusia 22 tahun dari latar belakang Guinea, setelah mencoba menangkapnya di Breil. Pembunuhan itu mendorong ribuan orang turun ke jalan, melemparkan bom Molotov, membakar mobil dan bangunan. Menyerang pasukan yang dikirim untuk memadamkan api. Gangguan berlangsung sepanjang minggu.

Kematian Fofana mengatakan segala sesuatu yang sebenarnya terjadi terhadap warga Prancis berakar Afrika dan Arab.

Pemain seperti Pogba, seorang Muslim berkulit hitam, bertubuh tinggi, dan kuat seperti Fofana, adalah kelas yang kerap dicela. Para politisi dan komentator media menghasut kebencian dengan menyebut "banlieusards", singkatan untuk out-of-towners. Diberikan kepada orang yang tidak punya kesempatan untuk bergabung dengan arus utama, Mereka tidak mendapat perumahan layak dan pekerjaan.

Sebaliknya, mereka dipandang sebagai penjahat potensial, hingga teroris.

Marine Le Pen, dari Front Nasional yang menjadi runner-up dalam pemilihan presiden tahun lalu, tidak "melakukan sepak bola" selama kampanyenya. Ia menyebut dirinya National Rally (NR), tapi terus menggaungkan xenophobia.

NR memiliki agenda anti-imigran dan anti-Muslim, dan jutaan orang Prancis mendukungnya.

Ayah Le Pen, seorang rasis, pendiri FN, menentang “tim pelangi” di yang memenangkan Piala Dunia dua dekade lalu. Dia saat itu mempertanyakan kesesuaian mereka mewakili Prancis.

Macron sendiri sering menampilkan rangkaian kefanatikannya. Pada konferensi pers G20 di Hamburg, musim panas lalu, ia berbicara masalah "peradaban" yang disebabkan ibu-ibu Afrika memiliki banyak anak. "Tujuh atau delapan anak per wanita" demikian kata Macron.

Sepak bola internasional mungkin bisa dianggap penangkal kecil sentimen rasis semacam itu. Tapi, rasanya sulit melihatnya menjadi kenyataan di Prancis. (aja)




BERITA LAINNYA

Terpopuler