{{ message }}

Harga Singkong Naik, Tidak Selalu Baik

Minggu, 22 Juli 2018 - 06:54:07 AM | 1886 | Opini

Harga Singkong Naik, Tidak Selalu Baik

 

Oleh: Luriana Taslim


AKHIR-AKHIR  ini petani bergembira karena harga singkong sedang naik. Bahkan di sentra produksi di Lampung, harga jual singkong tembus hingga Rp1.600 per kilogram setelah sebelumnya hanya di bawah Rp1.000 per kilogram. Menjelang lebaran, petani semakin gembira karena berarti mereka memiliki uang lebih banyak untuk dibelanjakan ketika harga-harga sedang naik. Namun, apakah harga singkong yang sedang naik ini akan terus memberikan kabar baik?

Kenaikan harga singkong mungkin memberikan tambahan pendapatan bagi petani secara instan, namun dampak dari kenaikan harga tersebut harus dilihat pada cakupan yang lebih luas lagi. Meningkatnya harga singkong juga berarti meningkatnya harga bahan baku bagi industri pengolah singkong. Pada industri tapioka misalnya, singkong mencakup 85% dari komponen biaya baku secara keseluruhan.

Meningkatnya harga singkong akan mengakibatkan meningkatnya harga jual tapioka. Hal ini juga berimbas pada industri pengguna tapioka, misalnya industri kerupuk. Industri kerupuk yang didominasi oleh usaha kecil terpaksa harus menurunkan produksi atau bahkan merugi akibat melejitnya harga bahan bakunya yaitu tapioka. Belum lagi dampak bagi industri lain yang merupakan pengguna tapioka seperti industri makanan dan minuman, industri pemanis, industri kertas, industri lem, dan sebagainya.

Meningkatnya harga singkong akan berdampak pada peningkatan harga dari produk-produk turunannya. Padahal, harga merupakan komponen penting agar suatu produk dapat bertahan dalam pasar. Kemampuan suatu produk untuk dapat bertahan dan berkembang dalam pasar ini disebut dengan daya saing.

Harga singkong seharusnya rendah karena itulah salah satu cara agar singkong kita memiliki daya saing. Contoh yang paling konkret adalah tapioka produksi Thailand. Harga tapiokanya yang begitu rendah mampu menguasai pasar internasional dan menjadikan Negeri Gajah Putih tersebut eksportir singkong terbesar di dunia. Tapioka Thailand yang diimpor Indonesia pun banyak diminati oleh industri dalam negeri, membuat tapioka produksi lokal terlihat semakin tidak berdaya saing. Belajar dari kesuksesan Thailand, harga singkong memang seharusnya rendah untuk mendongkrak daya saing singkong Indonesia.

Letak permasalahannya kini adalah, ketika harga singkong rendah, bagaimana petani bisa memperoleh kesejahteraan? Dengan produksi yang segitu-segitu saja, biasanya petani hanya mengharapkan kenaikan harga agar pendapatannya meningkat. Padahal, pendapatan petani juga dapat meningkat apabila produksinya yang segitu saja dinaikkan. Menaikkan produksi singkong ini, kita sebut sebagai peningkatan produktivitas.

Singkong harus memiliki produktivitas yang tinggi supaya ketika harga singkong rendah, petani kita tetap sejahtera. Harga yang rendah akan membuat singkong petani lebih diminati oleh industri pengolah. Harga yang rendah membuat singkong kita mampu bersaing di pasar, mengalahkan pesaing dengan harga yang lebih tinggi. Jumlah produksi yang tinggi, berarti pengali yang lebih besar untuk harga singkong yang diperoleh, menghasilkan tingkat pendapatan yang diterima petani. Semakin tinggi produksi, maka semakin tinggi pendapatan petani.

Perihal meningkatkan produktivitas, Kementerian Pertanian melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah mengeluarkan bibit singkong unggul dengan potensi hasil dan kualitas yang tinggi. Sebut saja untuk bahan baku tapioka, varietas singkong yang cocok digunakan adalah Adira 4, Malang 1, dan Malang 6 dengan potensi panen hingga 40 ton per hektar dalam 8 hingga 12 bulan.

Dengan menggunakan bibit unggul, dalam kurun waktu yang sama petani dapat meningkatkan produktivitas singkongnya hingga dua kali lipat dari angka produktivitas saat ini di 23 ton per hektar. Dari segi kualitas, singkong dari bibit unggul juga memiliki kualitas yang lebih baik dari bibit yang biasa digunakan petani.

Jumlah petani yang menggunakan bibit unggul singkong saat ini masih sangat terbatas, padahal bibit unggul telah tersedia. Potensi hasil panen singkong yang seharusnya dicapai jadi belum tercapai. Disinilah peran pemerintah sangat diperlukan. Pemerintah harus gencar melakukan sosialisasi dan dibarengi dengan pengadaan yang memadai perihal penggunaan bibit unggul ini.

Pemerintah harus mendorong petani agar mau menggunakan bibit unggul demi peningkatan produktivitas dan produksi nasional. Pemerintah harus aktif mendukung segala upaya dalam mewujudkan singkong Indonesia yang berdaya saing. Karena pada akhirnya, selain petani, pemerintah juga turut diuntungkan ketika singkong kita memiliki daya saing yang baik. (*)

Luriana Taslim
Mahasiswa Program Pascasarjana Agribisnis IPB

 




BERITA LAINNYA

Terpopuler