{{ message }}

Saat Berinternet, Satu dari Lima Remaja Buka Konten Porno

Rabu, 13 Juni 2018 - 11:37:26 AM | 1428 | Gadget

Saat Berinternet, Satu dari Lima Remaja Buka Konten Porno
ilustrasi

INILAMPUNG.COM - Kaum muda kini memiliki akses ke internet lebih banyak daripada sebelumnya. Para peneliti mencoba meneliti untuk memahami risikonya.

Sebuah studi baru diterbitkan di Journal of Adolescent Health, Selasa (12/6/2017), melaporkan, satu dari lima remaja melihat konten pornografi secara online. Dan satu dari sembilan orang mendapatkan kiriman materi seksual dari rekan-rekan atau orang dewasa.

Peneliti studi Sheri Madigan, psikolog anak dan remaja, mengatakan, banyak kliennya dari kaum muda berperilaku online berisiko.


"Beberapa remaja mengatur pertemuan offline dengan orang asing yang mereka temui secara online. Remaja lain berbagi foto telanjang secara online dan diperas untuk mengirim lebih banyak foto, atau mereka mempertaruhkan agar gambar mereka diposkan dan didistribusikan secara online," katanya, dikutip dari Time, Kamis (13/6/2018).

Madigan, Ketua Penelitian Departemen Psikologi University of Calgary dan Alberta Children's Hospital Research Institute, mempertanyakan seberapa umum kaum muda menemukan konten seks online atau diminta orang muda atau dewasa lainnya.

Untuk membantu menjawab pertanyaan itu, Madigan dan rekan-rekannya mengumpulkan data dari semua penelitian.

Mereka menemukan 31 studi yang melihat paparan online yang tidak diinginkan, dan sembilan studi ajakan online.

Mereka menemukan 20% orang muda terpapar gambar seksual secara online dan 11% menerima permintaan tidak diinginkan terlibat aktivitas atau percakapan seks, atau untuk menyediakan gambar porno.

"Meskipun Internet menjadi sumber daya berharga dan alat hiburan menyenangkan untuk anak-anak, itu juga berrisiko," kata Madigan.

Madigan mengatakan hanya sekitar 40% orang tua secara teratur berbicara dengan anak-anak dan remaja tentang keamanan Internet. Pengawasan orang tua terhadap penggunaan internet rendah.

Studi ini juga memberikan beberapa kabar baik. Para peneliti menemukan permintaan online tidak diinginkan menurun tiap tahun dari 2005 hingga 2015 sekitar 1%.

“Kami percaya bahwa kesadaran risiko Internet telah berkembang dari waktu ke waktu, yang dapat menjelaskan pengurangan risiko online,” kata Madigan. (aja)



Terpopuler