{{ message }}

Filosofi Piala Dunia 2018 untuk Dunia yang Rumit

Selasa, 19 Juni 2018 - 11:24:19 AM | 3171 | Opini

Filosofi Piala Dunia 2018 untuk Dunia yang Rumit

 

INILAMPUNG.COM - Acara olahraga terbesar di dunia sedang berjalan, dan ditonton jutaan orang mungkin mendekati angka miliar per harinya. Tuan rumah Rusia menang 5-0 dari Arab Saudi, Portugal dan Spanyol bertarung hingga menghasilkan enam gol, dan Meksiko menekuk juara bertahan Jerman. Semuanya itu memberikan banyak aksi di lapangan.

Di luar lapangan ada pertempuran lain sedang terjadi.

Lanskap politik dunia mungkin lebih genting saat ini daripada kapan pun sejak berakhirnya Perang Dingin.

Ketegangan Rusia dan Barat terus meningkat, dan beberapa orang mengatakan ini turnamen paling bermuatan politis dalam sejarah olahraga. Orang membandingkan Piala Dunia 2018 dengan Olimpiade terakhir sebelum Perang Dunia II.

Di Inggris, Parlemen Buruh Ian Austin menyerukan Inggris menarik keluar dari turnamen itu karena Presiden Rusia Vladimir Putin akan menggunakannya seperti Partai Nazi Adolf Hitler menggunakan Olimpiade 1936.

Menteri Luar Negeri Ingggris Boris Johnson mengira perbandingan tahun 1936 bisa saja benar. Ini adalah prospek emetik Putin yang bermegah dalam acara olahraga ini.

Bagi Putin, Piala Dunia adalah kesempatan mengubah pandangan dunia tentang Rusia, dan presiden populer itu menyatakan kekuatan sepakbola akan menyatukan planet sebagai satu tim.

"Dalam kesatuan ini, di mana tidak ada kekuasaan berkuasa, di mana tidak ada perbedaan bahasa, ideologi atau keyakinan, terletak kekuatan besar sepakbola," kata Putin pada pembukaan resmi turnamen.

Mantan Presiden UEFA Lennart Johansson mengatakan, sepak bola adalah penyamarataan luar biasa untuk orang-orang yang berasal dari latar belakang etnis, linguistik atau agama berbeda. Di lapangan sepakbola, semua orang sama.

Warga negara yang terpecah secara politis, seperti Kolombia, misalnya, dapat bersatu di belakang tim mereka di Piala Dunia.

Penelitian terbaru menemukan bahwa negara berkembang yang memenuhi syarat untuk Piala Dunia memiliki kesempatan menegaskan identitas nasional mereka di panggung internasional melalui kinerja di lapangan atau di luar lapangan.

"Piala Dunia FIFA tetap menjadi tontonan besar untuk menegaskan identitas bangsa," kata penulis studi tersebut. "Ini juga melahirkan pahlawan, ikon dan legenda, yang tidak hanya mewakili identitas nasional di panggung global, tapi melayang di ruang global transnasional."

Meski sepak bola hanyalah permainan, kekuatannya bisa menyatukan dan memberdayakan sangat mengesankan. Tapi, kita seharusnya tidak melupakan sisi gelap permainan bola bundar ini.

Skandal korupsi FIFA tidak diragukan telah merusak sepak bola dunia, dan pendapatan sponsor turnamen dilaporkan jatuh pertama kalinya.

Kemudian ada kekerasan, seperti ketika bek Kolombia Andres Escobar tewas setelah dia mengirim negaranya keluar dari Piala Dunia dengan gol bunuh diri.

Ini menunjukkan gairah sepak bola dapat bermanifestasi dalam cara yang baik atau buruk. Menunjukkan bagi banyak orang, sepak bola lebih dari sekadar olahraga.

"Acara ini tiap empat tahun, 32 tim, satu juara adalah jauh lebih banyak daripada apa yang terjadi di padang rumput di antara 22 pria," tulis Musa Okwonga dikutip dari NY Times.

“Ini tentang politik, ekonomi, masalah sosial. Tentang ras, kelas, dan sejarah. Tentang korupsi dan nasionalisme, ketakutan, dan sukacita. Tentang segalanya."

Saat kita menyelaraskan diri ke Piala Dunia, kita harus mengingat ketidakadilan, sambil membiarkan diri kita menikmati tontonan yang membawa orang-orang di seluruh dunia bersama.

Vladimir Putin benar tentang satu hal: sepak bola memiliki kekuatan menyatukan. Tapi, itu saja belum sempurna, sepak bola masih bisa menjadi kekuatan untuk kebaikan. (aja)

 




BERITA LAINNYA

Terpopuler