{{ message }}

Dunia Terkejut, Pemimpin Syiah Menangi Pemilu Irak

Jum'at, 18 Mei 2018 - 12:32:34 PM | 5008 | Politik

Dunia Terkejut, Pemimpin Syiah Menangi Pemilu Irak
Muqtada al-Sadr (inilampung.com/ist)

INILAMPUNG.COM - Pemimpin Syiah Muqtada al-Sadr mengejutkan dunia ketika Aliansi Sairoon yang dipimpimpinnya merebut mayoritas kursi di parlemen dalam pemilihan parlemen Irak. Ini merupakan kembalinya al-Sadr ke dunia politik setelah dikucilkan oleh pemerintah setempat dan Iran selama bertahun-tahun.

Ia dikenal pemimpin milisi anti-Amerika yang gigih, al-Sadr berganti nama dalam beberapa tahun terakhir sebagai seorang pahlawan patriotik kaum miskin dan seorang tokoh anti-korupsi.

Rebranding ulang ini bersama dengan partisipasi pemilih yang rendah hanya 44,52 persen, menurut para analis, faktor utama memungkinkan Sairoon, aliansi Gerakan Sadr dan Partai Komunis Irak memenangkan enam dari 18 provinsi Irak, termasuk Baghdad.

Menurut laporan Al Jazeera, dikutip Jumat (18/5/2018), meskipun hasil akhir belum dirilis, sebagian besar politisi Irak telah menerima penghitungan sejauh ini. Sairoon memenangkan lebih dari 1,3 juta suara, memenangkan 54 dari 329 kursi parlemen. Tanpa mayoritas mutlak, al-Sadr masih perlu membangun aliansi dengan partai lain untuk membentuk pemerintahan baru.

Tidak seperti Perdana Menteri Haider al-Abadi, sekutu Amerika Serikat dan Iran - posisi al-Sadr terhadap blok Syiah pro-Iran yang dominan dan jauh dari AS kemungkinan mengguncang kepentingan yang mapan di Irak.

Proyeksi dirinya sebagai seorang nasionalis Irak dan mencampurkan perlawanannya terhadap kehadiran AS di awal tahun 2000-an dengan religiusitas Syiah, Ia adalah putra almarhum Ayatollah Mohammad Sadeq al-Sadr, sarjana yang sangat dihormati di seluruh dunia Muslim Syiah. al-Sadr menjadi harapan bagi banyak Muslim Syiah Irak yang miskin.

Sejak tahun 2003, pengikutnya menyediakan layanan perawatan kesehatan, makanan, dan air bersih di banyak bagian pinggiran miskin Irak dan terutama di Kota Sadr, sebuah distrik Baghdad.

Kampanye pemilihan Sairoon 2018 menggunakan retorika anti-korupsi dan fokus pemotongan platform sektarian. Ini menarik bagi warga Irak yang frustrasi yang mengeluhkan patronase sistematis elit politik, pemerintahan yang buruk, dan korupsi.

Irak menduduki peringkat di antara negara-negara paling korup di dunia, dengan pengangguran yang tinggi, kemiskinan dan institusi publik yang lemah.

"Selama beberapa tahun, Sadr telah menentang tingkat korupsi dalam pemerintahan," kata Talha Abdulrazaq, ahli Irak di Institut Strategi dan Keamanan Universitas Exeter. (aja)



Terpopuler