{{ message }}

Ubah Stigma Negatif, Lampung Timur Malu Menganggur

Minggu, 15 April 2018 - 05:21:32 AM | 313 | Bisnis

Ubah Stigma Negatif, Lampung Timur Malu Menganggur
Kelompok usaha masyarakat di Lampung Timur. (inilampung.com/ist).

INILAMPUNG.COM – Stigma kurang baik dan dekat dengan kekerasan, selama ini melekat dengan Kabupaten Lampung Timur (Lamtim). Pemerintah setempat berupaya mengubah stigma itu dengan Gerakan Malu Mengganggur.

Gerakan yang digagas Bupati Lampung Timur CHusnunia atau Nunik, bertujuan mendorong masyarakat untuk kreatif dan berinovasi menciptakan usaha mandiri.

"Program Gerakan Malu Menganggur dijalankan secara formal dan melibatkan berbagai instansi, sehingga potensi yang belum tergarap akan diperluas untuk menjadi solusi terbaik,” ujar Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah dan Tenaga Kerja Lamtim Budiyull Hartono.


Menurut dia, program ini dilakukan secara bertahap di tingkat desa. Pemkab Lamtim berupaya melakukan pembenahan dan menciptakan inovasi di segala bidang. Baik infrastruktur maupun pemberdayaan.

Kebijakan program ini berbasis kawasan, sehingga lintas sektoral yang sifatnya juga mengedepankan konsep gotong-royong antara pemkab dan masyarakat.

Budiyull Hartono menjelaskan, sebagai salah satu satker yang terlibat, Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah dan Tenaga Kerja telah melaksanakan program dan kegiatan dengan memberikan pelatihan keterampilan bagi pencari kerja berbasis kebutuhan industri yang ada.

Pelatihan keterampilan itu untuk menciptakan wirausaha berbasis sumberdaya lokal, memberikan kegiatan pemagangan baik dalam dan luar negeri serta mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah sehingga mampu menyerap tenaga kerja di lingkungan sekitarnya.

“Dalam penciptaan wirausaha baru, kami melakukan berbagai pembekalan keterampilan berbasis potensi lokal bagi masyarakat pencari kerja. Sektor-sektor yang dikembangkan berupa jasa. Antara lain pelatihan tata rias. Menjahit, service elektronik, perbengkelan sepeda motor, penukangan kayu dan pangkas rambut,” paparnya.

Selain itu, sektor home industri berupa anyaman/ukiran souvenir, pengolahan makanan, batako/paving block, membatik dan tapis.

“Dengan pembekalan ini diharapkan usaha industri rumahan dapat berkembang sehingga dapat menyumbang menggeliatnya ekonomi daerah,” ucapnya.

Budiyull Hartono menambahkan, pelatihan yang dilakukan tidak hanya berhenti sampai di situ. Tetapi setelahnya dilakukan pendampingan terhadap peserta pelatihan sampai usaha yang dilatihkan dapat direalisasikan. Pascapelatihan, kelompok peserta yang dilatih dibuatkan komunitas berupa Kelompok Usaha Bersama (Kube).

“Kube ini diharapkan dapat menjadi wadah para peserta pelatihan mencoba melakukan usaha secara bersama dengan pendampingan dari pemerintah. Kube ini akan diberikan fasilitas sarana prasarana yang diperlukan untuk menunjang usaha yang dilakukan oleh warga,” tutupnya. (rls).



Terpopuler