{{ message }}

Potret Suram Pencari Suaka di Jakarta

Minggu, 15 April 2018 - 10:13:21 AM | 208 | Seni & Budaya

Potret Suram Pencari Suaka di Jakarta
Keluarga pencari suaka di Jakarta (inilampung.com/ist)

INILAMPUNG.COM - Waktu berjalan sudah 58 hari. Selama itu Farid Attaie tidur di trotoar di luar kantor Imigrasi di Kalideres, Jakarta Barat. Ia bersama orang tuanya, lima saudara kandung, dan tiga keluarga lainnya.

Kurang dari 20 meter dari tempat mereka tidur, gerbang fasilitas penahanan Imigrasi dipenuhi pencari suaka hingga ke kawat berduri yang dirancang mencegah orang keluar. Farid ada di dalamnya bersama lebih dari 300 pencari suaka dan pengungsi berbagai negara. 

Di Indonesia saat ini ada sekitar 13.885 pencari suaka dan pengungsi.


Farid dan keluarganya tak punya apa-apa lagi, uang mereka telah habis dan mereka tidak punya tempat tujuan lagi.

Di masa lalu pencari suaka tiba di Indonesia dari negara seperti Afghanistan, Pakistan, Somalia dan Irak. Biasanya mereka naik perahu dengan negara tujuan Australia.

Tapi, hanya segelintir kapal yang sampai ke pantai Australia dalam tiga setengah tahun terakhir. Beberapa pencari suaka yang mencapai Australia juga diasingkan lagi, ditempatkan di Nauru atau Papua New Guinea.

Pengungsi berharap mendapat tempat layak di negara ketiga. Tapi, tiap tahun secara global kurang dari 1 persen pengungsi yang mendapatkan kesempatan itu.

Dalam beberapa bulan terakhir, komisioner tinggi PBB untuk pengungsi telah mengatakan kepada mereka tidak mungkin dipindahkan lagi.

“Kami tidak tahu berapa tahun kami akan berada di sini,” kata Farid (20), dikutip dari The Guardian, Minggu (15/4/2018).

"Bulan lalu UNHCR (badan dari PBB yang menangani pengungsi) mengatakan tidak akan pernah Anda pindah ke negara lain. Dan mungkin Anda akan terus ada di sini," imbuh dia.

Keluarga Farid, petani apel dari Provinsi Wardak, Afghanistan, melarikan diri dari tanah airnya setelah kakak tertuanya ditembak mati tahun lalu. Setelah 10 bulan di Indonesia, uang mereka habis.

Di pusat-pusat imigrasi di Jawa, Sumatra, dan Kalimantan, pencari suaka protes belum lama ini. Mereka juga mulai depresi, permintaan bantuan psikologis meningkat. Seorang pencari suaka muda Afghanistan bunuh diri bulan lalu, karena mendengar mereka tak akan pernah dipindahkan.

Di Kalideres, keputusasaan itu terasa jelas. Jalanan adalah serangkaian cerita horor.

Tinggal di jalanan, lebih dari 300 pencari suaka dan pengungsi hidupnya bergantung pada bantuan dermawan. Terutama untuk kebutuhan air dan makanan.

Untuk pergi ke kamar mandi dan mencuci, mereka menggunakan fasilitas di stasiun bus. Tapi, tentu saja mereka tidak mendapatkanya secara gratis. Mereka harus punya uang jika ingin mendapatkannya.

Mereka juga menghadapi sanitasi buruk, panas dan hujan bergantian menyelimuti mereka sehingga  banyak yang sakit. (aja)



Terpopuler