{{ message }}

KPK akan Panggil Ketua Gerinda Lampung

Jum'at, 9 Maret 2018 - 02:15:21 AM | 464 | Hukum

KPK akan Panggil Ketua Gerinda Lampung
Ketua DPD Gerinda Provinsi Lampng Gunadi Ibrahim. (inilampung.com/ist).

INILAMPUNG.COM - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan memanggil Ketua DPD Gerinda Provinsi Lampng Gunadi Ibrahim terkait kasus dugaan suap yang menjerat Bupati nonaktif Lampung Tengah Mustafa.

Dalam kasus ini, KPK menangkap 18 orang yang terdiri dari pejabat dan anggota DPRD Lampung Tengah serta dari kalangan swasta dalam operasi tangkap tangan (OTT) beberapa waktu silam. Termasuk Mustafa dan Wakil Ketua DPRD Lampung Tengah J Natalis Sinaga (JNS).

Oknum pejabat Lampung Tengah itu diduga memberikan suap senilai Rp1 miliar kepada anggota DPRD Lamteng agar menyetujui pinjaman pemerintah daerah senilai Rp300 miliar dari PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI).

Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, Gunadi akan dijadikan saksi untuk peran Wakil Ketua DPRD Lampung Tengah J Natalis Sinaga (JNS). “Ia jadi saksi untuk JNS," kata Febri seperti dikutip rilis.id, Jumat (9/3).

Selain Gunadi, KPK juga akan memangil pengawal pribadi Mustafa bernama Erik Jonathan, kontraktor CV Kurnia Jaya Kurnain, dan Rano dari CV Panji Pembangunan, serta seorang sopir bernama Rico. Mereka akan dimintai keterangan sebagai saksi JNS.

Sebelumnya, penyidik KPK juga memeriksa empat Ketua Fraksi DPRD Lampung Tengah. Mereka adalah Ketua Fraksi Golkar, Roni Ahwandi, Ketua Fraksi PKS M. Ghofur, Ketua Fraksi PKB Iskandar, dan Ketua Fraksi Gerindra Ahmad Rosidi.

Dalam kasus ini, KPK menetapkan Calon Gubernur Lampung nomor urut empat Mustafa sebagai tersangka. Tersangka lainnya, Wakil Ketua DPRD Lampung Tengah J Natalis Sinaga, anggota DPRD Lampung Tengah Rusliyanto dan Kepala Dinas Bina Marga Lampung Tengah Taufik Rahman.

Mustafa diduga secara bersama-sama menjadi pemberi suap kepada anggota DPRD Lampung Tengah agar menyetujui usulan pinjaman daerah kepada PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) sebesar Rp300 miliar.

Atas perbuatannya, Mustafa dan Taufik selaku pemberi suap dijerat dengan Pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 13 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sementara Natalis dan Rusliyanto sebagai penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (rls/ilc-1)




BERITA LAINNYA

Terpopuler