{{ message }}

Sisi Gelap dan Kekejaman De Wallen

Minggu, 11 Februari 2018 - 11:24:50 AM | 315 | Travelling

Sisi Gelap dan Kekejaman De Wallen

 

INILAMPUNG.Com - Sudah hampir jam 11 malam saat salju turun di jalan-jalan sempit di Amsterdam, Belanda. Dua pria muda mengenakan hoodies bergoyang-goyang terlihat memasuki salah satu jendela di distrik seks paling terkenal di dunia.

Di sana keluar cahaya merah, dan ada tiga wanita hanya memakai pakaian dalam. Yang satu memainkan acuh tak acuh teleponnya, dan tidak mau repot-repot menatap pria yang meliriknya.

Yang lain sedang mengoleskan lipstiknya. Dan ketiga berayun lembut dari sisi ke sisi, menatap dengan senyum kepada calon konsumennya.

Para pria itu mungkin orang Inggris. Mereka datang berbondong-bondong, berlibur, atau menghabiskan akhir pekan, kemudian melongok rumah bordil kota.

Beberapa orang menanggapi wanita yang memberi isyarat kepada mereka. Tidak diragukan lagi ini adalah De Wallen. Sebuah kawasan tempat pelacur menjual jasanya dan sejumlah toko seks dan bisnis sejenis seks lainnya berada.

Di sana pelacuran tidak hanya ditolerir tapi legal, dan kartu kredit pun diterima dengan senang hati.

Para wanita di tempat ini konon bisa menghasilkan hingga Rp6,5 juta per hari saat hari sibuk. Mungkin itu adalah sebagian alasan pekerja seks komersial bahagia diizinkan berkembang di jalan-jalan ini.

Tapi, kenyataannya seperti dikutip dari The Mail on Sunday, Ahad (11/2/2018), jauh lebih suram, kotor, dan berbahaya.

Sejumlah percobaan perdagangan manusia di pengadilan Belanda telah mengungkapkan kebenaran mengerikan. Banyak gadis tersenyum saat dibawa dari Eropa Timur oleh mucikari. Gadis-gadis itu tanpa rasa malu dan tidak memikirkan risiko kekerasan atau perkosaan.

"Kami dijual seperti barang di toko," kata seorang wanita muda yang dipaksa ke Amsterdam.

Angelica, gadis asal Rumania menghabiskan lima tahun mimpi buruknya sebagai tawanan di Amsterdam. Dia menceritakan kisahnya yang mengerikan tentang transformasi dari seorang siswa remaja yang cerdas menjadi wanita jalanan dalam usia 22 tahun.

Saat berusia 17 tahun, dia dipancing ke London oleh seorang pria yang dia anggap sebagai pacar. Dia ditawari pekerjaan dengan gaji besar sebagai penata rambut.

Tiba di Amsterdam, paspornya diambil dan dia dijual ke rumah bordil. "Orang yang membawa saya ke Inggris menggunakan saya seperti sepotong daging," katanya.

"Ketika saya melihat rumah bordil dengan semua gadis di jendela, saya menangis sangat keras karena mereka tampak mengerikan, dan aku tahu itulah yang menimpaku."

Dia diberi tahu berutang 508 juta lebih kepada para pedagang karena mereka telah memberi uang kepada keluarganya.

Tarif Angelica sebesar Rp658 ribu untuk layanan biasa. Mucikarinya bisa menyayat wajahnya jika menolak permintaan klien.

Didorong kisah mengerikan itu ditambah makin merajalelanya aborsi, banyak politisi dan pegiat HAM Belanda berbalik melawan perdagangan seks.

Seorang anggota parlemen Belanda mengatakan bahwa rumah bordil, terlihat menyenangkan tapi sebenarnya tidak lebih dari perkosaan komersial.

Belanda kini mengeluarkan undang-undang baru prostitusi, mulai berlaku tahun depan. Salah satunya memuat hukuman hingga empat tahun penjara jika ditemukan orang yang terlibat perdagangan manusia untuk dijadikan PSK. (aja)



Terpopuler