{{ message }}

Reuters Terbitkan Rincian Pembantaian 10 Muslim Rohingya

Jum'at, 9 Februari 2018 - 11:28:08 AM | 215 | Seni & Budaya

Reuters Terbitkan Rincian Pembantaian 10 Muslim Rohingya

 

INILAMPUNG.Com -- Kantor berita Reuters menerbitkan sebuah penyelidikan rinci mengenai pembantaian 10 Muslim Rohingya oleh tentara Myanmar dan penduduk desa. Berita itu bermula dari laporan dua reporter Reuters yang kemudian ditangkap rezim Myanmar.

Wa Lone dan Kyaw Soe Oo didakwa memiliki rahasia negara yang tidak sah saat melaporkan krisis Rohingya yang sedang berlangsung di negara bagian Rakhine. Mereka saat ini menunggu persidangan di balik jeruji besi.

Dikutip dari Time, menurut laporan khusus Reuters, diterbitkan hari Kamis (8/2/2018), tentara Myanmar menahan dan mengeksekusi 10 orang Rohingya, dan remaja laki-laki dengan bantuan penduduk desa Buddha setempat di Desa Inn Din, Rakhine, pada 2 September 2017.


"Penyelidikan Reuters atas pembantaian Inn Din adalah meminta otoritas polisi Myanmar menangkap dua wartawan kantor berita tersebut," tulis kantor berita Reuters dalam laporannya.

Catatan Reuters mengacu pada wawancara keluarga korban juga kesaksian dari penduduk desa dan petugas keamanan. Semuanya mengkonfirmasikan peran militer dalam insiden tersebut.

Bulan lalu, tentara Myanmar mengakui tentaranya bertanggung jawab atas kematian 10 Muslim Rohingya. Tapi, membantah laporan Associated Press yang mengungkap lebih banyak kuburan massal.

Sejak Agustus 2017, lebih dari 688.000 Muslim Rohingya mengungsi dari Rakhine utara ke Bangladesh. Mereka menyelamatkan diri dari kekerasan militer Myanmar. Pejabat PBB menyebut kejadian itu "pembersihan etnis" dengan "unsur genosida".

Militer mengatakan bahwa orang-orang yang dibunuh itu termasuk dalam kelompok "teroris" Rohingya. Tapi, Reuters melaporkan bahwa mereka adalah "nelayan, pemilik toko, dua remaja dan seorang guru Islam. Korban dipilih dari ratusan penduduk desa Rohingya, menurut saksi mata.

"Kami percaya ini adalah cerita yang sangat penting secara global, dan kami memiliki tanggung jawab menerbitkannya. Bagaimanapun, itulah yang kami lakukan sebagai jurnalis, kami melaporkan cerita dengan adil dan jujur," kta Presiden Reuters Stephen J. Adler kepada BBC Newsnight saat menjelaskan keputusan mempublikasikan ceritanya. (aja)



Terpopuler