{{ message }}

NTB dan Banyuwangi Buka Rahasia Sukses Bangun Pariwisata

Jum'at, 9 Februari 2018 - 09:55:52 AM | 349 | Travelling

NTB dan Banyuwangi Buka Rahasia Sukses Bangun Pariwisata
Seminar Pariwisata pada Hari Pers Nasional 2018 di Padang Sumatera Barat. (inilampung.com/ist)

INILAMPUNG.COM - Dua daerah di Indonesia yang dinilai fenomenal perkembangan pariwisatanya adalah Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Banyuwangi. Pesatnya industri pariwisata di kedua daerah ini, tidak hanya mendapat pengakuan dari dalam negeri, tetapi banyak lembaga internasional yang memberikan penghargaan.

Pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2018 di Padang Sumatera Barat, pimpinan kedua daerah itu, Gubernur NTB TGH Muhammad Zainul Majdi dan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, membagikan kiat-kiat mengembangkan pariwisata.

Kedua pemimpin yang menarik perhatian nasional itu, duduk dalam satu forum Seminar Nasional Menata Potensi Wisata dan Dukungan Infrastruktur Menuju Industri Pariwisata yang Modern di Hotel Gran Inna, Padang, Rabu (7/2/2018).

Gubernur NTB yang tampil sebagai pembicara lebih dulu menjelaskan strategi membangun pariwisata di daerahnya hingga akhirnya menjadi maju seperti sekarang.

Pada awalnya, kata gubernur alumni Universitas Al Azhar Mesir, banyak yang pesimistis pariwisata NTB bisa maju. Alasan utama, letak daerahnya yang berdekatan dengan Bali yang sudah lama dan maju pariwisatanya. Hal ini akan membuat pariwisata NTB sulit berkembang kecuali hanya akan menjadi subsistem dari Bali.

Namun, Zainul Majdi meyakinkan seluruh elemen masyarakat, terutama wakil rakyat, tokoh masyarakat, dan warganya bahwa pariwisata merupakan sektor yang bisa membuat NTB maju dan rakyatnya makmur.

"Kami lebih dulu menyatukan visi dan menjadikan pariwisata sebagai sektor prioritas pembangunan," ujarnya.

Setelah berhasil menyamakan visi, baru tahap berikutnya yaitu membuat payung hukum. Hal ini penting karena pembangunan pariwisata membutuhkan waktu panjang dan membutuhkan komitmen. Sehingga siapa pun nanti yang memimpin, pembangunan pariwisata tetap dilanjutnya.

"NTB itu daerah yang memiliki regulasi pariwisata paling lengkap di Indonesia," kata gubernur hafiz quran ini.

Menurut dia, payung hukum itu penting karena banyak pembangunan yang tidak bisa dikerjakan dalam setahun sehingga memerlukan anggaran tahun jamak.

Langkah berikutnya, dia menjelaskan, membangun pariwisata tidak bisa berdiri sendiri, tetapi harus beriringan atau didukung oleh sektor lain. Terutama terkait dengan infrastruktur.

"Kalau bapak ibu ke NTB akan melihat infrastruktur jalan di sangat sangat mantab. Baik akses antar-tempat wisata maupun dari kota ke tempat wisata," katanya.

Stratergi terakhir yang dibutuhkan dalam pengembangan pariwisata, menurut Zainul, harus kreatif dan inovatif. Kembali dia mengingatkan, dekatnya NTB dengan Bali membuat daerahnya harus terus menciptakan inovasi agar mampu bersaing.

Selain itu, juga melihat perkembangan pariwisata muslim terutama wisatawan yang berasal dari Timur Tengah, potensinya sangat besar. "Satu tahun, nilai wisata Muslim mencapai 200 miliar dolar Amerika. Setahun kemudian diperkirakan melonjak dua kali lipat," katanya.

Bukti besarnya potensi itu, kata dia, banyak negara non Muslim yang turut menawarkan wisata Muslim sejak beberapa tahun silam. Seperti Jepang, Korea, bahkan Thailand pun menawarkan wisata halal.

Potensi wisata Muslim yang begitu besar, harus dimanfaatkan. "Akhirnya kami memilih mengembangkan wisata halal. Alhamdulillah, perkembangan wisata di NTB sangat pesat," ujar Zainul Majdi.

Budaya Lokal Syarat Izin Dirikan Hotel

Sementara Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas memulai dengan menceritakan pentingnya bandar udara.

"Sebagus apa pun pariwisata kita, jika untuk datang orang harus menempuh perjalanan lebih dari tiga jam, akan sulit mendatangkan wisatawan," kata Azwar.

Karena itu, setelah menjadi bupati dan menetapkan pariwisata sebagai program unggulan, kata dia, prioritas yang akan dibangun adalah Bandara Blimbing.

"Membangun Bandara Blimbing, kami tidak meminta bantuan pusat. Seluruhnya dibiayai APBD," ujarnya. Alasannya, jika meminta bantuan pemerintah pusat, terminal bandara akan dibangun dengan gedung modern berdinding kaca, seperti umumnya bandara internasional.

Menurut Anas, bangunan seperti itu akan menghilangkah nilai-nilai budaya masyarakat setempat. Bahkan membuat warganya termarjinalkan.

"Kami membangun bandara dengan mengadopsi budaya lokal," katanya. Sebagai daerah mayoritas Muslim, memiliki kebiasaan mengantarkan jemaah haji atau umrah yang melibatkan warga dalam jumlah banyak.

Dengan bandara modern, para pengantar jemaah haji atau umroh, tak bisa seluruhnya masuk bandara. Mereka hanya duduk-duduk di halaman bandara yang seringkali tampak seperti orang telantar.

Di Bandara Blimbing, kata dia, memiliki ruang yang luas di lantai atas yang mampu menampung para pengantar jemaah haji atau umroh. "Kebiasaan pengantar jemaah haji atau umroh, baru pulang setelah melihat pesawatnya terbang. Padahal saat mereka melambaikan tangan, jemaah yang diantar juga tidak melihat," katanya.

Hal lain untuk mempertahankan budaya warga setempat, kata Anas, pemerintah menerbitkan peraturan yang mempertahankan hamparan sawah di sekitar bandara. "Kalau tidak dilarang, sudah tumbuh ruko-roku di sekitar bandara," katanya.

Bandara Blimbing yang dibangun dengan konsep tanpa mesin pendingin ruangan (AC), menurut pengakuan bupati yang pernah menjadi anggota DPR RI ini, mendapat respon positif dari para wisatawan yang berkunjung ke sana.

Kebijakan lain terkait pariwisata, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, hanya mengizinkan pendirian hotel bintang tiga ke atas. "Kami tidak mengizinkan hotel melati karena akan menutup ruang masyarakat mengembangkan home stay," katanya.

Kebijakan itu terbukti mendorong masyarakat mendirikan home stay yang saat ini jumlahnya mencapai lebih dari 500 rumah. "Jadi harus berkolaborasi, investor berkembang, masyarakat juga diuntungkan dengan pariwisata," katanya.

Kebijakan lain terkait pembangunan hotel, kata Anas, pemerintah setempat mewajibkan investor membangun hotel dengan menggunakan ornamen lokal.

Sama seperti yang diungkapkan Gubernur NTB TGH Muhammad Zainul Majdi, menurut Anas, membangun pariwisata harus berbasis pada budaya masyarakat setempat. Hal ini akhirnya mampu menggerakkan masyarakat untuk turut membangun pariwisata. Dengan demikian, biaya membangun sektor ini bisa menjadi jauh lebih murah. (red/ilc-1).



Terpopuler