{{ message }}

Indonesia dalam Kepungan Hoax

Minggu, 25 Februari 2018 - 08:02:42 AM | 870 | Opini

Indonesia dalam Kepungan Hoax
Seminar Literasi Pelajar Konwil XXIII Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia Provinsi Lampung. Naqiyah Syam (penulis/bloger), Muhammad Furqon (wartawan), Wanda Wirantara (Ketua PW PII Lampung), dan Imam Asrofi (Keluarga Besar PII). (inilampung.com/ist).

Pesatnya perkembangan teknologi informasi melahirkan 800 ribu situs penyebar berita bohong atau hoax dan ribuan media siber yang dikelola tidak profesional.

DUNIA kini memasuki era baru yang berbeda jauh dari masa sebelumnya. Banyak warga terasing dan bahkan tidak bisa lagi beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di lingkungannya. Namun, sebagian yang lain begitu asyik menikmati sampai seperti menyatu dengan era baru.

Pada era yang dimulai sejak ditemukannya teknologi internet ini, hampir semua sisi kehidupan masyarakat bergantung dengan teknologi informasi yang serba digital. Banyak kebiasaan, hobi, bahkan budaya manusia yang berubah. Boleh jadi secara berangsur-angsur, semua kebiasaan warga era sebelumnya akan lenyap, berubah dengan kebiasaan baru yang sama sekali asing pada masa lalu.

Dalam memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari, seperti berbelanja pakaian atau makanan, misalnya. Pada era ini, semua itu bisa dipenuhi tanpa harus antre atau kehujanan di jalan raya. Tetapi cukup dengan sentuhan jari di layar smartphone yang terhubung dengan internet, menu kepala kakap dari Rumah Makan Bedagang, fast food McDonald, sampai nasi uduk Kribo dan kebab Turki yang berdagang di pinggir jalan, akan tiba di hadapan kita tanpa harus keluar rumah.

Tidak hanya soal makanan yang bisa diselesaikan oleh perangkat yang tak lebih dari satu genggaman tangan itu. Kebutuhan atau urusan yang lebih berat dari serius pun hanya perlu hitungan detik untuk menuntaskan. Mulai dari bayar tagihan telepon, listrik, atau utang kepada sejawat, sampai dengan urusan tiket penerbangan dan penginapan dalam perjalanan wisata ke luar negeri, bisa diselesaikan tanpa harus beranjak dari tempat duduk.

Begitu banyak warna kehidupan masyarakat yang berubah. Banyak hal baru yang dilakukan warga tiba-tiba muncul dan mengejutkan karena tidak pernah diduga sebelumnya. Perubahan itu bergerak sangat cepat. Seperti gelombang air bah yang menggulung seluruh lini kehidupan masyarakat di berbagai belahan dunia.

Gelombang perubahaan ini berjalan begitu cepat dengan kekuatan yang luar biasa besar. Tidak hanya terjadi di kawasan perkotaan, tetapi juga merambah hingga ke pelosok desa Indonesia.
Luas dan besarnya pengaruh era baru di Indonesia, setidaknya bisa dilihat dari jumlah pengguna internet di negeri ini yang perkembangannya sangat cepat. Bahkan menjadi negara terbesar di dunia pengguna internet.

Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebutkan, pada 2006 pengguna internet di Indonesia tercatat 20 juta orang. Pada 2016 melonjak sampai 132,7 juta. Dalam tempo sepuluh tahun, terjadi kenaikan sampai enam kali lipat.

Data APJII itu juga menyebutkan, dari seluruh pengguna internet itu, lebih dari separohnya aktif mengakses media sosial. Terutama Facebook dan Twitter. Sementara dari sisi usia, mayoritas adalah mahasiswa dan pelajar. Dengan durasi mengakses internet, sekitar 65,98 persen pengguna internet yang seharian berselancar di dunia maya.

Sebuah gambaran yang positif jika dilihat dari sisi penerimaan masyarakat Indonesia terhadap era baru. Dengan jangkauan yang luas hingga ke pelosok desa, setidaknya menunjukkan bahwa negeri ini tidaklah tertinggal dalam perkembangan –minimal dari sisi penerimaan— teknologi informasi.

Apalagi jika melihat mayoritas pengakses internet adalah kalangan terdidik yaitu pelajar dan mahasiswa. Hal ini semakin memunculkan optimisme terhadap masa depan Indonesia yang lebih baik. Bahwa, dalam sepuluh atau dua puluh tahun ke depan, negeri kepulauan ini menjadi sebuah negara modern yang serba digital dengan kehidupan masyarakatnya yang makmur.

Kendati demikian, tentu bukan hal mudah untuk meraih kemajuan dan kemakmuran itu. Apalagi jika melihat perkembangan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Pesatnya perkembangan teknologi informasi telah menimbulkan kekhawatiran bahwa yang diraih bukanlah kemajuan, tetapi sebaliknya justru sesuatu yang “mengerikan”. Yaitu, mengancam eksistensi Negara Republik Indonesia.

Kekhawatiran itu cukup beralasan karena memang banyak pihak –pribadi maupun kelompok— yang sengaja dan terencana dengan baik memanfaatkan kemajuan teknologi informasi untuk meraih keuntungan, baik materi, ideologi, maupun budaya, tanpa mempedulikan dampak negatifnya.

Dalam kasus Pilkada DKI Jakarta, misalnya. Hubungan harmonis masyarakat Jakarta yang terbangun selama bertahun-tahun berubah menjadi berkelompok, terkotak-kotak, dan nyaris terpecah karena saling-serang dan menjatuhkan melalui provokasi yang disebarkan lewat media. Yang mengerikan, kondisi itu juga berimbas ke seluruh Indonesia.

Ancaman lain, maraknya situs internet sebagai lapak prostitusi, perjudian, dan menyebarkan pornografi. Juga, yang tidak kalah mengerikan adalah tumbuh suburnya situs-situs penyebar kebencian dan berita bohong atau hoax. Kementerian Komunikasi dan Informasi menyebutkan ada sekitar 800 ribu situs!

Sementara, media siber yang juga tumbuh subur, banyak dikelola asal-asalan. Dewan Pers menyebutkan, di Indonesia saat ini ada sekitar 43 ribu media siber. Dari jumlah ini, tidak lebih dari dua ribu media siber yang terverfikasi sebagai media yang dikelola secara profesional.

Dengan kondisi itu, bisa dibayangkan, bagaimana masyarakat setiap hari dibombardir ratusan atau bahkan ribuan informasi bohong, fitnah, dan provokasi atau farming. Bagi masyarakat, tentu sulit untuk membedakan kebenaran informasi karena berbagai keterbatasan yang mereka miliki.

Karena itu, dibutuhkan upaya untuk mencerdaskan masyarakat agar bisa memilih dan memilah informasi yang layak dibaca. Jika tidak, maka provokasi fitnah, dan berita bohong akan berkembang berpinak-pinak. Apalagi jika dikaitkan dengan hobi sebagian masyarakat menyebarkan informasi melalui media sosial tanpa lebih dulu meneliti kebenarannya.

Dengan demikian, mendesak dan menjadi tugas semua pihak untuk ikut melakukan sesuatu agar kemajuan teknologi informasi dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kemajuan dan kemakmuran masyarakat.

Antara lain dengan cara: Pertama, memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya memilih informasi yang benar. Misalnya, mengakses informasi dari media siber terpecaya.

Kedua, menyosialisasikan ancaman hukum terhadap penyebar berita bohong atau fitnah, seperti yang diatur dalam Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
Pemahaman yang baik terhadap kedua hal itu, diharapkan bisa meminimalkan meluasnya hoax dan fitnah. Sehingga masyarakat bisa lolos dari kepungan hoax dan fitnah. Wallahu alam. (*)

Oleh: Muhammad Fuqon/Wartawan
Disampaikan pada “Seminar Literasi Pelajar” pada Konferensi Wilayah XXIII Pelajar Isilam Indonesia (PII) Lampung, Sabtu, 24 Februari 2018.




BERITA LAINNYA

Terpopuler