{{ message }}

Hanya Rencana Bangun Masjid Picu Perang Agama

Jum'at, 9 Februari 2018 - 08:22:14 AM | 3410 | Seni & Budaya

Hanya Rencana Bangun Masjid Picu Perang Agama

 

INILAMPUNG.Com -- Empat puluh tahun lalu, Mohammad Ali Chaudry, seorang ekonom kelahiran Pakistan, membuat rumah di luar Kota New York. Dia datang untuk pekerjaan eksekutif di perusahaan telekomunikasi AT & T, dan akhirnya bekerja di sana selama beberapa dekade.

Seperti banyak imigran ke AS, Chaudry percaya sepenuh hati kisah kemenangan orang Amerika tentang bangsanya. Chaudry seorang Muslim taat. Tapi, hal-hal yang membuatnya berbeda jauh lebih penting daripada cara dia membuktikan bahwa dia juga sama.

Chaudry dan istrinya berasal dari Italia, membesarkan tiga anak di Manor Drive, kota Basking Ridge, di pusat negara bagian New Jersey.


Basking Ridge berada di area perbukitan hijau dan gereja berjajar putih, tidak jauh dari Bedminster, tempat Donald Trump memiliki perkebunan musim panasnya.

Sesuai nilai komunitas, Chaudry menjadi anggota aktif partai Republikan lokal dan mencalonkan diri menjadi anggota dewan. Tahun 2004, Chaudry menjadi orang Pakistan pertama menjadi wali kota sebuah kota di AS.

Setelah Chaudry pensiun dari AT & T dan politik, dia masih sibuk kegiatan sosial, ia fokus membangun toleransi beragama. Dia mengelola organisasi nirlaba kecil Center for Understanding Islam, dan mengajar di universitas setempat.

Hidupnya mengalami kejutan drastis tahun 2011, saat hendak membangun sebuah masjid di Basking Ridge. Selama bertahun-tahun, Chaudry dan Muslim lokal lainnya menggunakan pusat komunitas untuk salat berjamaah seperti salat Jumat.

Chaudry menilai Muslim di Basking Ridge perlu tempat permanen untuk salat. Dia mendapati tempat cocok seluas empat acre. Setelah membelinya, Chaudry menyosialisasikan rencana itu kepada tetangganya.

Saat pertama semua warga menerima. Tapi, ketika ia menempel pengumuman, orang tak dikenal merobek dan menghancurkannya.

Undang-undang New Jersey mengharuskan masyarakat Islam mendapatkan persetujuan dari pemerintah kota untuk membangun masjid. Tapi, dari pengalamannya sebagai pejabat, Chaudry tahu bahwa kota tersebut selama ini tak pernah mempermasalahkan keberadaan tempat ibadah.

Itu tujuh tahun lalu, sebelum gencar beberapa warga kota membentuk kelompok pemboikotan masjid tersebut.

Chaudry akhirnya membawa masalah itu ke pengadilan. Tapi, masalah melebar, ia mendapat serangan dari berbagai pihak, bahkan dituduh simpatisan teroris.

Jauh hari sebelum Donald Trump datang memanfaatkan kebencian Islam, Islamofobia sedang meluas di AS. Menggelegak seperti gas rawa dari kedalaman. Seringkali, konflik rasial memanifestasikan dirinya dalam pertarungan perencanaan lokal kecil yang tampaknya terisolasi mengenai proposal untuk membangun masjid.

Departemen Kehakiman AS mencatat peningkatan tajam sengketa masjid pada tahun 2010 dan 2016.

Banyak terjadi di tempat-tempat konservatif seperti di pedesaan Murfreesboro, Tennessee. Tapi juga terjadi di tempat-tempat tak terduga seperti Basking Ridge: sebuah komunitas kaya dan berpendidikan di bagian utara-timur AS yang toleran.

Warga Basking Ride menilai keberadaan masjid akan membuat lalu lintas semerawut dan keributan, dan akan merusak nilai properti mereka.

Bagaimana bisa perselisihan kota kecil itu berubah menjadi perang agama, dengan implikasi legal dan simbolis bagi seluruh Amerika?

Salah satu bagian dari jawabannya adalah undang-undang penggunaan lahan di labirin negara tersebut, membuat sebagian besar kontrol pemerintah negara bagian dan pemerintah daerah. Pada gilirannya rentan kemarahan massa.

Tapi sesuatu yang lain lebih dalam dan lebih gelap sepertinya sedang bekerja. Beberapa warga secara terbuka membahas teori konspirasi Islamofobia, seperti gagasan bahwa masjid tersebut dimaksudkan untuk penaklukan.

Muslim di AS tampaknya harus terus berjuang untuk menyatakan eksistensinya, bagian dari negara yang mengklaim dirinya demokrasi itu. Rentetan Islamofobia akan terus menyertai perjuangan mereka.(aja)



Terpopuler