{{ message }}

Menumbing dalam Kenangan

Minggu, 7 Januari 2018 - 09:33:45 AM | 273 | Opini

Menumbing dalam Kenangan
Surat Bung Karno kepada Fatmawati disimpan di Penggrahan Ranggam.(inilampung.com/ist)

DUA penanda dari Kota Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung (Babel). Pertama pesanggrahan Menumbing di Bukit Menumbing dan pesanggrahan Ranggam di pusat Kota Muntok.

Kedua pesanggrahan itu merupakan tempat ketika Soekarno, Hatta, Agus Salim, Muhammad Roem, Suryadarma, dan tiga pejuang lainnya diasingkan saat agresi Belanda.

Sokarno hanya 6 hari di Bukit Menumbing lalu dipindah ke Ranggam, karena alasan tak tahan cuaca dingin. Meski ada cerita lain, Bung Karno enggan serumah dengan Bung Hatta karena selalu berbeda pendapat.

Pesanggrahan Menumbing berada di puncak bukit Menumbing. Dari depan tempat pengasingan ini, alam hutan dan laut terlihat indah. Apalagi dari atap rumah berarsitektur Belanda, aduhai bentangan hutan bagaikan permadani hijau.

Ruas jalan untuk mencapai pesanggrahan hanya dapat dilalui satu mobil. Jadi bagi kendaraan dari bawah harus menunggu kendaraan lain dari atas.

Kendaraan yang digunakan Bung Karno dan kawan-kawan kala itu sebuah sedan, dan saat ini menjadi "pajangan" di pesanggrahan itu.

Di tempat inilah dulu kala, para 'goodfather' bangsa berdiskusi maupun menyusun strategi. Di sana mereka ditawan dalam kawalan ketat tentara kolonial, meski mereka tak dirantai. Bagaimana mungkin bisa lari, belantara mahaluas mengungkungnya.

Bung Karno lebih beruntung. Setelah enam hari di Bukit Menumbing, ia dipindah ke Ranggam. Di rumah pengasingan ini, beberapa kali para bapak bangsa melakukan rapat dan diskusi. Di rumah ini ada surat dengan tulisan tangan Soekarno kepada Fatmawati di balik selembar foto. Surat bung berbunyi: "Ini adalah gambar mas pada sehari waktu di Muntok. Kurus atau gemukkah?'

Sepucuk surat yang sulit diingkari nadanya begitu romantis. Sehingga rasanya tiada istri yang tak senang alang kepalang mendapatkan dan membacanya. Soekarno memang selalu puitis jika mengatakan seauatu kepada perempuan.

Pesanggrahan Menumbing dibangun sekira 1948, sementara Ranggam dibangun pada 1927-an. Menumbing dibuat diyakini sebagai tempat istirahat menikmati kesejukan angin pegunungan bagi orang Belanda. Bisa dibayangkan berapa korban rakyat Indonesia untuk menggeruk bukit buat jalan dan membangun pesanggrahan tersebut, yang berjarak sekitar tiga kilometer dari bawah.

Selain dua penanda itu, adalah sastran Hamida yang telah melhirkan buku sastra "Kehilngan Mustika" sebagai ikon Muntok.

Tetapi, sebagaimana arti dari Muntok atau Mentok, memanglah kota ini benar-benar berada di wilayah yang benar-benar mentok. Jauh dari Pangkalpinang--kini ibukota provinsi--dengan waku tempuh bisa 3 jam lebih, juga dekat laut dan dikelilingi bebukitan.

Hanya saja, meski Muntok menyimpan sejarah yang sangat berharga, daerah ini seperti asing dibanding wilayah lain di Babel. Suasana pada malam hari hingga kini selalu sepi. Padahal pelabuhan kapal selalu berlayar tiap hari ke Palembang.

Sunyi juga terjadi pada dunia literasi. Tak banyak komunitas baca dan perpustakaan yang dikelola swadaya, salah satunya dilakukan Rita Obaningrum; guru SLTA. Di sebelah rumah ia buat kedai merangkap komunitas baca. Lebih dari 200 judul dipajang di rak buku hasil karya suaminya, Alpin.

Pelanggan bebas membaca sambil menikmati jajanan. Rita juga menyediakan wifi gratis.

Dunia literasi di Muntok harus digelorakan. Bersama Bambang Seno dan didukung penuh Ketua STKIP Muhammadiyah Bangka Belitung Dr. Asyraf Suryadin akan menggelar sebuah "Pesta Puisi Muntok 2018" yang diagendakan pada 27-29 April 2018 mendatang.

Mereka tak punya anggaran, namun yang dipunyai hanyalah semangat untuk mengubah "rabun baca dan lumpuh nulis" menjadi "benderang baca dan semangat menulis" di kalangan pelajar dan masyarakat Muntok.

Sejumlah penyair Indonesia dari Aceh hingga Papua rencananya diundang ke Muntok. Ada seminar, pertemuan penyair, baca puisi, bazar buku sastra, city tour, dan beberapa agenda lainnya.

Ketua umum Pesta Puisi Muntok 2018 Asyraf Suryadin optimistis kegiatan ini bisa digelar dengan baik. Ia mengaku sudah meninformasikan kepada Gubernur Babel, dan disambut baik.

"InsyqAllah pak Gubernur siap mendukung dan membantu," kata Asyraf.

Hal sama disampaikan Bambang Seno, ketua pelaksana harian. Event sastra pertama di Muntok ini diyakini mendapat suport dari pemerintah.

"Apalagi tolok ukurnya jelas, membangun atau membangkitkan dunia literasi di Muntok," ujar dia.

Selain itu untuk mengenalkan lebih luas destinasi wisata Menumbing dan Ranggam.

Diperkirakan 50 penyair Indonesia akan meramaikan Pesta Puisi Muntok 2018, selain peninjau dan pengamat sastra dari negara tetangga serumpun.

Sutardji Calzoum Bachri, presiden penyar Indonesia yang dikenal.dengan puisi berakar dari tradisi mantra melayu akan diundang khusus untuk membaca puisi pada malam pembukaan.

Penyair Anwar Putra Bayu dan saya mendapat kepercayaan untuk menentukan penyair. Mereka yang diundang diminta mengirim 5 puisi, minimal 1 puisi bertema "Menumbing dalam Kenangan" dan lainnya adalah bebas.

Tajuk "Menumbing dalam Kenangan" itu akan dijadikan spirit dari kegiatan sastra di Muntok ini.

Penulis
Isbedy Stiawan ZS, penyair Lampung

 




BERITA LAINNYA

Terpopuler