{{ message }}

Guru Pengubah Hidup Muridnya

Sabtu, 6 Januari 2018 - 08:27:14 AM | 259 | Opini

Guru Pengubah Hidup Muridnya
Ibnu Munzir, alumni Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum - Desa Brajaharjosari - Kecamatan Brajaselebah - Lampung Timur. (inilampung.com/facebook)

INILAMPUNG.Com - Beberapa hari setelah ujian akhir, guru madrasah ibtidaiah (setingkat SD) memanggil saya dan bertanya apakah saya berminat untuk sekolah ke luar negeri, suatu hari nanti. Tentu saja saya berminat.

Beliau kemudian berkata kalau begitu saya harus melanjutkan pendidikan ke kota. Beliau lalu meminta saya memanggil bapak saya. Beliau meyakinkan bapak saya pentingnya saya sekolah ke Bandar Lampung, 100 KM dari kampung kami. Guru tersebut lah yang membantu mendaftarkan sekolah, menemani ujian masuk, dan mengantarkan saya ketika akhirnya saya diterima di MTsN I Tanjung Karang.

Selepas MTs, saya melanjutkan ke Madrasah Aliyah Keagamaan Bandar Lampung dan kemudian Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Di UI, saya berkuliah dengan terengah-engah. Saya pernah dapat IP 1,9. Prestasi saya saat kuliah ada di luar kelas dengan menjadi relawan di pemukiman padat Jakarta dan tiga daerah konflik: Aceh, Poso, dan Maluku Utara. Akan tetapi, saya tetap ingin bisa lulus dengan IPK minimal 3,0 agar suatu hari bisa mendaftar beasiswa ke luar negeri. Saya butuh beberapa semester tambahan untuk mengulang dan “mencuci” mata kuliah dengan nilai C agar menjadi A. Setelah kuliah sebelas semester, Alhamdullilaah saya berhasil lulus dengan IPK 3,04!

Beberapa saat setelah lulus, terjadilah tsunami. Tsunami membawa saya bekerja bersama guru-guru di tiga puluh sekolah di Aceh Utara: dari Muara Batu hingga Seunuddon, dari Lapang hingga Paya Bakong. Semboyan program kami “Satu hari, satu senyum” mendorong guru sebagai pengajar, pendidik, pengasuh, dan teladan untuk ikut mendukung pemulihan psikologis siswa/i pasca bencana dengan langkah kecil: mendukung satu siswa/i untuk bisa tersenyum lebih lebar setiap harinya.

Setahun lebih bekerja dengan para guru SD mengingatkan saya dengan guru madrasah ibtidaiah saya dan janjinya bahwa saya akan sekolah ke luar negeri. Saya harus kuliah lagi ke luar negeri. Saya pun menjadi pemburu beasiswa. Bertahun-tahun saya mencoba dan gagal, sampai akhirnya mendapat Fulbright Tsunami Initiative award dan bisa melanjutkan pendidikan ke Penn State. Beberapa saat sebelum berangkat, saya pulang kampung dan menemui guru saya untuk mengatakan bahwa mimpi yang beliau tanamkan sudah saya dapatkan. Terima Kasih.

Setelah pulang dari Amerika, saya belum pernah bertemu kembali dengan guru saya. Mohon maaf, saya terlalu sibuk menyelamatkan dunia. Saat lebaran, saya pernah mengirimkan sarung pada beliau. Beliau kemudian berkata pada bapak saya bahwa sarung itu kadang digunakan sebagai selimut saat beliau sakit. Katanya hangat, karena yang memberikan adalah muridnya.

Siang ini (Jumat, 5 Januari 2018. Red), guru saya meninggal dunia. Saya tahu menjelang magrib sehingga tidak sempat mengejar penerbangan ke Lampung. Melalui tulisan ini, saya ingin mengenang beliau sebagaimana saya selalu mengingatnya saat memfasilitasi pelatihan dukungan psikososial bagi guru SD di berbagai daerah bencana. Saya sering berkata bahwa tiga puluh menit yang diluangkan oleh seorang guru untuk walking extra mile dengan menemui dan menyemangati muridnya, dapat merubah hidup murid tersebut. Dan saya adalah contohnya.

Selamat Jalan Guruku, Bapak Haji Abdillah Mardi Santoso. Terima Kasih telah memberikan saya mimpi dan membantu meraihnya. Semoga amal ini menambah kebaikan Bapak di yaumil hisab nanti. Allahumma 'ghfirlahuu wa ‘rhamhuu wa aafihi wa ‘fu anhu.

Oleh Ibnu Munzir
Alumni Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum - Desa Brajaharjosari - Kecamatan Brajaselebah - Lampung Timur




BERITA LAINNYA

Terpopuler