{{ message }}

Antusiasme dan Kebangkitan Kota dari Teater (2)

Senin, 4 Desember 2017 - 08:50:02 AM | 191 | Seni & Budaya

Antusiasme dan Kebangkitan Kota dari Teater (2)

 

"Saya merinding dan mau menangis. Saya juga melihat aktris yang memerankan Sang Putri, menangis sampai mengeluarkan air mata."

INILAMPUNG.COM- Keberadaan Sumur Putri bukan hanya penting untuk memenuhi kebutuhan minum warga atau manusia, melainkan Sumur Putri juga menjadi sumber kehidupan tumbuh-tumbuhan. "Tentu saja, termasuk tanaman yang menghasilkan buah yang saya jual," jelas Gudel.

Kesedihan mendalam terlihat dari Imam, pemeran penebang pohon yang kali pertama menemukan sumber mata air Sumur Putri. Ia seolah mewakili arwah para orang tua yang berjasa menemukan dan membangun Sumur Putri."Sedih banget. Dulunya sumur ini begitu vital, tapi kok sekarang diabaikan tak terurus," kata Imam.


Menyaksikan secara utuh adegan dalam pertunjukan Putri Sumur Bandung ini, seolah mewakili apa yang menjadi perasaan Mbah Rusman, seniman lukis yang berusia hampir 80 tahun dan tinggal di salah satu Toilet Sumur Putri ini, memiliki harapan dan cita-cita suatu saat kelak Sumur Putri kembali dihidupkan, dibangun Taman di sekelilingnya. "Saya ini sudah tak memiliki keinginan apapun. Cita-cita Mbah satu yang belum bisa diwujudkan, membuat sekitaran Sumur Putri ini menjadi taman. Jadi, kalau malam banyak orang, jadi orang-orang tidak takut lagi lewat sini,” kata Mbah Rusman sebagaimana dilansir www.omah1001.net.

Rahmatul Ummah, Gundoel, Wahyu Dicky, Gudel, dan sederet nama anak-anak muda di Kota Metro yang memelopori era kebangkitan, antusiasme serta semangat. Mencari akar sejarah dari keberadaan mereka. Bahkan termasuk lokasi pentas, dipilihnya Cafe Mama adalah bagian dari usaha menghadirkan kejayaan masa lalu dengan menambah berbagai pembaharuan, agar semakin holistik, bernilai guna, kekinian dan jauh lebih bermanfaat dalam upaya merawat Kota Metro yang bahkan dijadikan tagline seluruh spirit gerakan komunitas yang tergabung dalam Metro Bergeliat. Yakni, slogan yang berbunyi "Ini Tentang Kota Kita".
Tercatat, setidaknya ada sekitar 600 pengunjung yang semuanya anak-anak muda. Malam itu, Kafe Mama menjadi semacam arus balik untuk meneguhkan diri, bakal menjadi lokasi dan tujuan anak-anak nongkrong yang mencari sensasi dan keunikan kongkow. Pasalnya, setting ruang dan aneka hidangan, bakal dibuat dan diberi nama oleh sejumlah aktifis. Dihadirkan juga Pojok Baca, ruang Dialektika, teater dan panggung-panggung komunitas.

Rahmatul Ummah bahkan sudah berniat terjun langsung ke dalam pengelolaan bisnis Cafe Mama ini. Sebab, menurut dia, kota yang maju dan smart, butuh tempat baca sekaligus lokasi untuk pentas kreasi seni budaya.(ilc/enk)



Terpopuler