{{ message }}

Antusiasme dan Kebangkitan Kota dari Teater (1)

Senin, 4 Desember 2017 - 02:52:08 AM | 320 | Seni & Budaya

Antusiasme dan Kebangkitan Kota dari Teater (1)

 

INILAMPUNG.COM- Gabungan beberapa komunitas, dipelopori Metro Bergeliat dan Rombongan SeniOne menggelar pentas teater yang mengangkat legenda. Lakon yang berkisah tentang Putri Sumur Bandung itu mengisahkan mitos, tragedi, sekaligus memotret warga Kota Metro sejak sebelum Indonesia merdeka.

SEBUAH spanduk berlatar biru, bertulis balok "Ini Tentang Kota Kita" menjadi sambutan awal di Kafe Mama, Metro, Lampung, Sabtu, 2 Desember 2017, malam. Ratusan sepeda motor dan beberapa mobil terparkir padat di kanan kiri jalan masuk, berjarak sekira 800 meter dari Kantor Pajak Kota Metro. Pentas drama musikal yang melibatkan 40 aktor itu, menjadi pendulum baru dari sebuah proses pencarian kesejarahan. Menguak jati diri dan menampilkan artefak-artefak yang mulai digusur oleh pemerintah.

"Diangkatnya tema Putri Sumur Bandung ini sebenarnya hanya pemantik, kalau anak-anak muda di Kota Metro itu punya dan sangat menghargai sejarah," demikian diucapkan Rahmatul Ummah, pasca acara.


Penulis skenario yang juga dikenal sebagai aktivis dan pekerja sosial itu menjelaskan, lokasi sumur yang berada di belakang gedung bersejarah yang sudah diratakan dengan tanah oleh pemerintah itu dikenal dengan mana Sumur Bandung. Beberapa warga juga menyebutnya, Sumur Putri. "Ada juga sekelompok warga yang melabelinya dengan nama Sumur Wakaf," kata dia.

Skenario lakon Putri Sumur Bandung itu, terasa hidup dan menghadirkan kembali legenda dan berbagai kemisteriusan sumur yang hampir semua warga, berusia di atas lima puluh tahun, mengetahuinya. Bahkan pasti punya kenangan dengan sumur itu jika tiba musim kemarau.

"Sumur ini sudah menjadi saksi perjalanan Kota Metro, kalau kemarau, warga dari Kota Gajah, Trimurjo, sekarang bernaung di Kabupaten Lampung Tengah, ikut mengangsu air dengan naik sepeda atau berjalan kaki."

Gundoel, panggilan akrab sutradara lakon Putri Sumur Bandung itu juga, secara piawai menghadirkan realisme dengan balutan berbagai mitos. Diracik dengan tata cahaya, panggung yang sebenarnya, diakui seadanya, musik yang dikomparasikan dengan wiraga para aktor, banyak yang memuji sebagai keberhasilan dramatik menyatukan antara semangat, gagasan, sekaligus antusiasme serta gelombang bebuat kebaikan bagi anak-anak muda.

"Dipilihnya Kafe Mama untuk lokasi pentas, sebenarnya sudah berbasis kajian dari banyak teman-teman, di sini sudah ada pepohonan, jalanan tanah, aktor bisa benar-benar menghadirkan unsur realisme tanpa tata panggung yang terlalu banyak menyedot anggaran," kata sutradara yang bernama asli Andika Septian itu.

Belum lagi, jelas dia, pentas Putri Sumur Bandung ini juga murni swadaya anak-anak muda. "Tiket Rp.10 ribu itu juga rencananya bakal digunakan untuk membangun sumur yang diabaikan pemerintah itu," katanya.

Saat ini, Pemerintah Kota Metro kabarnya sudah mulai memperbaiki dan merenovasi keberadaan sumur yang dibangun antara tahun 1935-1942 itu. (Ilc/enk)



Terpopuler